HAMPIR ENAM BULAN YANG LALU





MATAHARI pagi itu menyilaukan mata dengan pendarnya yang keemasan ketika Rani mengutarakan niatnya untuk memohon izin kepada ibu. Entah angina apa yang sempat menyenggol bahunya sehingga ia bersih keras untuk pergi berbelanja keperluan untuk jualan di kios yang sudah habis, sendirian. Tentunya ibu tak akan membiarkannya berjalan sendiri menyusuri celah-celah sempit nan ramai Kota Daeng.
                “ Tapi,Rani…Kamu kan…”
                “Baru sembuh maksud, Ibu? Tenang Bu, Rani tidak apa-apa. Puang juga dulu tidak pernah larang-larang Rani untuk pergi kepasar.”
                “Iya, tapi itu dulu. Sekarang kan, beda.”
                “ Sudahlah, Ibu. Rani baik-baik saja. Rani juga akan pulang cepat.”
                “Tapi. Rani.”
                “Sudahlah, Ibu…Biarmi.”
                “Rani..”
                Rani tersenyum pelan. Matanya yang sayup semakin sayu diterpa cahaya lampu ruang tamu yang lupa dipadamkan. Setelah mendapatkan anggukan terpaksa dari ibu, Rani secepatnya mengambil tas belanja di atas sofa tua yang mulai menguning warnaynya.
                “Rani, Hati-hati!” ibu menghelat nafas lamat-lamat. Diteriakinya Rani dari balik pintu. Suara paraunya sudah lebih dari jelas untuk menerangkan apa dan bagaimana cekikan hatinya saat ini.
                “Iya Ibu!” Teriak Rani balik sambil menaiki becak langganan ibu tiap minggunya.
                Ibu masih menatap jalan yang mulai kering akibat hujan semalam. Mana tega ia membiarkan Rani sendirian ke pasar? Seandainya keadaan tidak semenyedihkan ini, Pastinya ranilah yang diperintanhnya  untuk kepasar tiap pecan. Toh badannya juga semakin menua tiap hari, belum lagi matanya mulai rabun. Sedangkan Rani? Dia masih kuat . Umurnya juga baru kepala lima. Tentunya dia akan lebih kuat mengangkat belanjaan disbanding Ibu.
                Namun adahal yang selalu menjadikannya pengecualian. Tadi selepas shalat subh ibu tak hentinya beristigfar. Suara paraunya terdengar jelas sampai-sampai Rani yang saat itu sedang menanak nasi bersegera mungkin. Melihat keadaan ibu takut kalau-kalau terjadi sesuatu yang tak diiinginkan. Namn, saat dilihatnya Ibu hanya duduk sambil menggilir tasbih satu per satu di sela jarinya. Melihat keadaan demikian, Rani tak berpikir panjang  dan langsung kembali ke dapur untuk menunggui nasi yang sebentar lagi masak tanpa tahu bahwa semalam ibu bangun tiba-tiba dari tidurnya dengan cucuran keringat dingin yang membasahi hamper seluruh permukaan bantal.
                Ibu bermimpi. Puang semalam dating melewat dan meminta Ibu untuk ikut dengannya. Namun, dengan segala kekuatan yan g dimilikinya, ibu melepaskan genggaman tangan puang yang tidak mudah untuk dilerai. Puang, memaksa namun ibu tetap tak mau. Sampai akhirnya puang mengancam jika ibu tak mau ikut maka Puang akan mengambil Rani untuk pergi bersamanya, secepatnya. Ibu yang pada saat itu berada dalam satu dilemma, bimbang tak karuan, langsung saja berteriak histeris. Sedetik kemudian ibu lalu terbangun dari mimpi buruknya itu.
                Benar, saja ia keringatan setengah mati. Sesegara mungkin ia berjalan perlahan menuju kamar Rani untuk memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi yang menimpa Rani. Beruntungnnya, malam itu Rani tertidur dengan pulasnya sambil memeluk guling biru  dengan berselimut sarung batik penginggalan Puang. Ibu megelus dada. Namun, tanpa sepengetahuannya, keberuntunga ibu hanya dimiliki Rani untuk malam ini.
                Jadi jika ada yang bertanya Rani itu kenapa? Seantero pasar sudah tahu apa jawabannya. Itulah sebabnya mengapa sedri tadi para penghuni pasar tak hentinya mengalihkan pandangan dari sosok seorang rani. Dengan ekspresi yang berbeda-beda, mereka senyum pelan. Pemandangan demikian sudah pasti akan didapatkannya. Oleh karena itu, sebelum ia berangkat tadi pukul tujuh, ia sudah menguatkan niatnya. Tak boleh ada tangisan.
                Setelah mengankat belanjaan keatas becak, rani kemudian pamit dan berterimah kasih kepada pelanggang grosirnya yang terkahir ditempati belanja. Daeng tukang becak yang umurnya juga sudah semakin tua kemudian mengayuh becaknya dengan perlahan, sementara rani sudah duduk manis didudukan becaknya dengan dipenuhi tumpukan barang belanjaan.
                Setengah, perjalanan tiba-tiba saja rani teringat sesuatu. Sudah berapa tahun ini tak pernah menziarahi makam suaminya, Wildan. Semenjak kejadian tragis yang menyimpahnya itu. Rani tak pernah lagi memikirkan wildan. Jadi jangankan untuk berziarah menyebut namanya saj mungkin tak pernah lagi beberapa tahun terakhir ini. Bukannya Rani sudah tak saying, bukannya cinta yang ada dihatinya juga sudah ikut terkubur, namun keadaan yang mengahurskannya ikut terbelenggu dalam lingkaran keadaan semenyedihkan ini.
                “Daeng, kita ke TPU samping masjid AL-MARKAS dulu!” Perintah rani setelah hampur lima menit balut dalam kisah suram diatas becak. Ya, begitu menggemaskan.
                Sang daeng tukang becak kemudian memutar balik becak tuanya. Rani memegang erat tangannya. Wildan, beberapa tahun? Ya, lebih dari dua puluh delapan!
                Rani melangkahkan kakinya mamsuki gerbang pemakaman Islam yang cukup teduh itu. Pohon beringin besar bambu-bambu yang tinggi, menjulang beberapa pohon pisang yang mulai bertunas juga tumbuh didalamnya. Tak membutuhkan waktu yang kama untuk menemukan pusara Wildan. Tepat dibawah pohon mangga yang bunganya sedang giat untuk berjatuhan perlahan, rani menelungkupkan lututnya . Makam itu masih terawatt. Pasti pengurus pemakan tak pernah letih untuk membersihkan seluruh areal makan yang tak sempit ini.
                Tiga puluh menit lewat lima sekon. Rani kemudian beranjak berdiri meninggalkan pusara seorang yang sempat menjadi pendamping hidupnya tersebut setelah sempat mengirimkan ayat kursi dan doa untuknya. Dengan tatapan kosong, dilangkahkannya kakinya yang tida-tiba lemas. Ia terus melangkahkan melewati serangkaian makam-makam yang lain.
                Kekosongan mendalam.
             Dan kekosongan itulah ang membawa ketidak beruntungannya pada pagi menjelang siang ini. Rani tak sadar telah melewati gerbang makanm. Sampai ketika ia akan menyeberang , ia tidak melihat ketika tiba-tiba saja sebuah susuki Ertiga hitam melaju dengan amat kencang. Penumpanh yang ada di dalamnya histeris ke takutan. REM BLONG.!
    Baru saja rani akan mundur kebelakang untuk menghindar, mobil itu tanpa rem-karena remnya memang blong-langsung  saja menyandarkan plat depannya tepat tubuh Rani. Rani memejamkan mata, menatap sekelabat. Pandangannya kabur . daeng tukang becak yang melihatnya hanya mengungkapkan bibirnya selebar mungkin. KAGET!
    Sedetik,dua detik, darah mulai bercucuran di atas jalanan. Rani yang tergeletak di aspal kehilangan kesadaran. Matanya sayu, kemudian semua yang dilihatnya menjadi rona hitam tanpa batas.
       Bulan itu bulan juni, bulan dimana Wildan juga diperintahkan untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah ia lakukan di dunia.

SUMBER REFERENSI
Muhammad Nahdiyati Nur.2015.nada di setiap denyut nadimu.yogyakarta;the phinis press yogyakarta.