Usaha Mengurangi Terjadinya Miskonsepsi Fisika Melalui Pembelajaran Dengan Pendekatan Konflik Kognitif (PKM-AI)


USAHA MENGURANGI TERJADINYA MISKONSEPSI FISIKA MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONFLIK KOGNITIF
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap miskonsepsi.. Pembelajaran dengan pendekatan konflik kognitif ini merupakan salah satu pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri. Dalam penelitian ini pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan pendekatan konflik kognitif, dan kelas kelompok kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu : metode dokumentasi dan metode tes. Untuk pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t-tes.. Ternyata dari hasil perhitungan uji perbedaan dua rata-rata hasil belajar dapat disimpulkan pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar fisika.
ABSTRACT
The goal of the research is to know wether or not a cognitive conflict approach in physics has a significant influence in misconception. The cognitive conflict approach is a learning process which provides students to develop their knowledge. In this research two groups were observed. The first group called experiment group was treated with cognitive conflict approach and the other group called control group was treated with conventional learning process. Collecting data methods used in this research were documentation and test method. T-test was used to analyze the hypothesis. Based on the analysis results it can be concluded that cognitive conflict approach has a significant influence on students' learning result.
Keywords: cognitive conflict; physics learning process; misconception in physics

PENDAHULUAN
Miskonsepsi fisika dapat terjadi pada siapa saja di setiap jenjang pendidikan, baik pada siswa sekolah dasar, sekolah menengah, mahasiswa, bahkan guru ataupun dosen. Dalam KTSP, fisika merupakan mata pelajaran yang lebih banyak memerlukan pemahaman. Hal ini dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah menengah yang dapat dijadikan sebagai modal penguasaan ilmu dan teknologi pada pendidikan selanjutnya. Agar penguasaan standar kompetensi dapat tercapai maka siswa harus dapat memahami konsep-konsep sub pokok bahasan tertentu dalam suatu kegiatan pembelajaran. Menurut Van Den Berg (1991) siswa tidak memasuki pelajaran dengan kepala kosong yang dapat diisi dengan pengetahuan. Tetapi sebaliknya kepala siswa sudah penuh dengan pengalaman dan pengetahuan yang berhubungan dengan pelajaran yang diajarkan. Intuisi siswa mengenai suatu konsep yang berbeda dengan ilmuwan fisika ini disebut dengan miskonsepsi. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan pada saat mempelajari suatu konsep. Berdasarkan penelitian Mustafa Baser (2006) tentang pengembangan perubahan konsep dengan pembelajaran konflik kognitif pada pemahaman siswa tentang konsep suhu dan kalor, hasil uji menunjukan bahwa skor rata-rata postes siswa di kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol pada akhir pembelajaran tentang pemahaman konsep suhu
dan kalor. Secara spesifik Van Den Berg (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika cukup efektif untuk mengatasi miskonsepsi pada siswa dalam rangka membentuk keseimbangan ilmu yang lebih tinggi. Rangsangan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika akan sangat membantu proses asimilasi menjadi lebih efektif dan bermakna dalam pergulatan intelektualitas siswa. Untuk itu pendekatan konflik kognitif perlu dilakukan dalam strategi pembelajaran fisika. Tujuan dari penelitian ini adalah apakah pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap miskonsepsi fisika dan apakah pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar fisika. 
Metode
Penelitian ini dilakukan di SMP Negri 3 Bissappu Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII semester 2 SMP yang terdiri dari 288 siswa dan terbagi dalam delapan kelas dan masingmasing kelas terdiri dari 36 siswa. Sedangkan sampelnya adalah siswa kelas VII E sebagai kelas eksperimen dan VIICsebagai kelas kontrol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen eksperimen dengan langkah sebagai berikut : kondisi awal kedua sampel diberi pretes, setelah itu kelas eksperimen mendapatkan pembelajaran menggunakan pendekatan konflik kognitif dan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional. Pada kondisi akhir dilakukan postes untuk kedua kelas, hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap miskonsepsi. Indikator dalam penelitian ini adalah penguasaan materi pelajaran dengan miskonsepsi sedikit mungkin. Untuk mengukur indikator tersebut dilakukan melalui test. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, dan metode tes. Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan daftar nama siswa, dan daftar nilai IPA semester 1 kelas VII tahun pelajaran 2008/2009. Metode tes digunakan untuk mengukurmaspek kognitif siswa. Tes yang digunakan adalah tes objektif beralasan yaitu tes bentuk pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban disertai dengan alasan. Analisis data dilakukan dalam dua tahap diantaranya (1) analisis data sebelum penelitian meliputi analisis data nilai IPA semester 1 kelas VII tahun pelajaran 2008/2009 dan data pretes. (2) analisis data setelah penelitian yaitu analisis terhadap data postes. Analisis data sebelum penelitian digunakan sebagai syarat dalam pengambilan sampel yaitu dengan menguji homogenitas populasi, dan juga untuk mengetahui keadaan awal kedua kelompok sebelum diadakan perlakuan. Analisis data setelah penelitian digunakan untuk mengetahui keadaan akhir kedua kelompok setelah diadakan perlakuan. Selain itu digunakan untuk menguji hipotesis penelitian yaitu dengan melakukan uji normalitas, uji perbedaan dua rata-rata terhadap derajat miskonsepsi dan data postes. Setelah dilakukan pretes didapatkan derajat miskonsepsi dan nilai pretes. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1 yang menggambarkan derajat miskonsepsi kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelum penelitian.

Selain itu Gambar 2 yang menggambarkan nilai pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah dilakukan postes didapatkan derajat miskonsepsi dan nilai postes. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menggambarkan derajat miskonsepsi kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah penelitian. Selain itu Gambar 4 yang menggambarkan nilai postes kelas eksperimen dan kelas kontrol



PEMBAHASAN
Sebelum pembelajaran dimulai, kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi pretes yang sama dengan tujuan untuk mengetahui apakah kedua kelompok berangkat dari keadaan yang sama atau tidak. Dari hasil pretes didapatkan nilai pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogen. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2 yang menunjukkan nilai pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol terlihat hampir sama. Dari data pretes maka akan didapatkan derajat miskonsepsi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Seperti halnya nilai pretes, grafik derajat miskonsepsi kelas eksperimen dan kelas kontrol nilainya hampir sama. Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa derajat miskonsepsi kelas eksperimen dan kelas kontrol juga homogen. Setelah pembelajaran kalor, kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi postes yang sama dengan tujuan untuk mengetahui apakah pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap miskonsepsi fisika dan hasil belajar fisika atau tidak. Dari nilai postes didapatkan derajat miskonsepsi yang akhirnya dianalisis untuk menguji hipotesis penelitian dengan analisis data setelah penelitian yang meliputi uji normalitas dan uji perbedaan dua rata-rata. Pada uji normalitas derajat miskonsepsi setelah penelitian dan data postes, kedua kelas yang digunakan sebagai sampel berdistribusi normal. Secara signifikan dihitung menggunakan uji t dengan taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil uji perbedaan dua rata-rata derajat miskonsepsi diperoleh thitung = -2,53 dan dengan taraf signifikansi 5 %, dk = 36+36-2 = 70 diperoleh tabel = 1,99, Dengan demikian thitung< ttabel, maka hipotesis Ho diterima. Oleh karena Ha ditolak berarti rata-rata
miskonsepsi kelas eksperimen lebih kecil dari pada kelas kontrol. Dengan demikian hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa rata-rata miskonsepsi kelas eksperimen lebih kecil dari pada kelas kontrol diterima. Hal ini dapat dilihat pada gambar 3 dimana terlihat miskonsepsi kelas eksperimen lebih kecil dari kelas kontrol. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap miskonsepsi fisika. Miskonsepsi didefinisikan sebagai kesalahan pemahaman yang mungkin terjadi selama atau sebagai hasil dari pengajaran yang baru saja diberikan, berlawanan dengan konsepsi-konsepsi ilmiah yang dibawa atau berkembang dalam waktu lama. Van Den Berg (1991) menjelaskan bahwa miskonsepsi adalah pola berfikir yang kosisten pada suatu situasi atau masalah yang berbeda-beda tetapi pola berfikir itu salah. Atau dengan kata lain konsepsi siswa bertentangan dengan konsep fisikawan, biasanya menyangkut hubungan antar konsep. Sedangkan menurut psikologi kognitif, timbulnya miskonsepsi disebabkan adanya asimilasi dan akomodasi pada otak manusia dalam menanggapi dan memahami informasi yang baru diterimanya. Dalam Van Den Berg (1991), Piaget menyatakan bahwa dengan asimilasi dan akomodasi, informasi baru yang masuk ke otak diubah sampai cocok dengan struktur otak. Sebelum belajar fisika, dalam struktur kognitif siswa telah terbentuk sebagai pra konsepsi mengenai peristiwa dan pengertian tentang konsep-konsep fisika. Hal yang perlu disadari adalah bahwa belum tentu pra konsepsi tersebut benar dan sesuai dengan pengalaman nyata. Dalam kondisi semacam ini, jika konsep-konsep baru langsung saja dimasukan dalam struktur kognitif siswa akan terjadi pencampuran konsep lama (yang belum tentu benar) dan konsep baru yang mungkin juga belum tentu dipahami secara benar pula. Akibat pencampuran ini menjadikan pengertian yang salah dan akan menyebabkan kesulitan belajar siswa dalam belajar fisika. Struktur kognitif siswa dapat mengalami reorganisasi untuk menyesuaikan dengan informasi yang baru diterimanya (akomodasi). Hal ini berarti kesalahan konsep yang telah menyatu dalam pikiran siswa dapat diperbaiki dengan memanfaatkan terjadinya proses akomodasi. Harapannya adalah agar siswa melakukan reorganisasi struktur kognitif sehingga terjadi pergeseran miskonsepsi yang salah menuju konsepsi yang benar. Pendekatan konflik kognitif dikembangkan dari pandangan Piaget bahwa siswa secara aktif melakukan reorganisasi pengetahuan yang telah tersimpan dalam struktur kognitifnya dengan melakukan adaptasi berupa proses asimilasi dan akomodasi. Menurut Van Den Berg (1991) bahwa asimilasi adalah suatu proses dimana informasi yang masuk ke otak disesuaikan sampai cocok dengan struktur otak itu sendiri. Sedangkan akomodasi adalah proses perubahan struktur otak karena hasil pengamatan atau informasi baru. Lebih lanjut Posner dalam Suparno (1997) menjelaskan tentang asimilasi dan akomodasi, yaitu ada dua tahap yang dilakukan dalam proses belajar untuk perubahan konsep. Tahap pertama adalah asimilasi dan tahap kedua adalah akomodasi. Dengan asimilasi siswa menggunakan konsep-konsep yang telah mereka punyai untuk berhadapan dengan fenomena baru. Dengan akomodasi siswa mengubah konsepnya yang tidak cocok lagi dengan fenomena baru yang mereka hadapi. Hal ini sejalan dengan teori belajar bermakna dari Ausubel, belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Ini terjadi melalui belajar konsep, dan perubahan konsep yang ada akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur konsep yang telah dipunyai siswa. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam otak siswa sudah ada konsepsi dan teoriteorisiswa, perolehan informasi baru akan disesuaikan dengan struktur kognitif yang sudah ada. Apabila pengalaman atau informasi baru bisa sama sekali tidak cocok dengan struktur kognitif siswa maka dapat menimbulkan konflik dan terjadilah asimilasi dan akomodasi, yaitu perubahan konsep dengan membentuk struktur kognitif yang cocok dengan informasi baru tersebut. Perubahan konsep yang benar dapat dilakukan dengan pendekatan konflik kognitif. Proses konflik kognitif dijelaskan secara singkat oleh Van Den Berg (1991) bahwa jaringan konsep sebenarnya merupakan suatu teori atau model yang digunakan siswa untuk menyelesaikan soal dan masalah fisika. Seperti teori ilmuwan dalam fisika, teori siswa juga dapat diuji. Misalnya siswa dihadapkan dalam suatu masalah, siswa disuruh meramalkan pemecahan masalah tersebut. Kemudian sesudah ramalan, guru atau siswa menguji ramalan dalam demonstrasi di depan kelas atau dalam praktikum. Jika hasil tidak cocok dengan ramalan tadi, siswa menghadapi konflik kognitif yang dapat menghasilkan perubahan jaringan konsep dalam otak siswa (perubahan struktur kognitifnya). Menurut Lee, dkk (2003), proses konflik kognitif meliputi tiga tahap yaitu: (1) Pendahuluan (preliminary) yaitu dilakukan dengan penyajian konflik kognitif, (2) konflik (conflict) yaitu penciptaan konflik dengan bantuan kegiatan demonstrasi yang melibatkan proses asimilasi dan akomodasi, dan (3) penyelesaian (resolution) yaitu kegiatan diskusi dan menyimpulkan hasil diskusi. Menurut hasil penelitian Kwon, dkk (2006),
pengaruh konflik kognitif dengan metode demonstrasi menunjukan terjadinya perubahan pemahaman konsep pada siswa tentang fisika yang lebih efektif dibandingkan dengan metode yang lain. Adanya rata-rata miskonsepsi kelas eksperimen yang diberi pendekatan konflik kognitif lebih kecil dari pada kelas kontrol yang diberi pembelajaran secara konvensional menunjukan penelitian ini tidak menyimpang dari penelitian pendukung yang telah ada. Beberapa penelitian pendukung telah dilakukan diantaranya penelitian Dr. Mustafa Baser (Research Assistant in Science Education at Middle East Technical University between 1993 and 1998) tentangpengembangan perubahan konsep dengan pembelajaran konflik kognitif pada pemahaman siswa tentang konsep suhu dan kalor, hasil uji anova menunjukan bahwa skor rata-rata postes siswa di kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol pada akhir pembelajaran tentang pemahaman konsep suhu dan kalor.
Adanya rata-rata hasil belajar kelas eksperimen yang diberi pendekatan konflik kognitif lebih besar dari pada kelas kontrol yang diberi pembelajaran secara konvensional menunjukan penelitian ini tidak menyimpang dari penelitian pendukung yang telah ada. Dalam hal ini ada peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan pada kelas yang diberi pendekatan konflik kognitif. Adanya perbedaan derajat miskonsepsi ini karena pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konflik kognitif terjadi proses internal yang intensif pada peserta didik sehingga keseimbangan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi akan tercapai. Hal ini sesuai dengan pendapat Van Den Berg (1991) bahwa dengan adanya konflik dalam otak siswa maka dapat menghasilkan perubahan jaringan konsep dalam otak siswa (perubahan struktur kognitifnya). Perubahan itu belum tentu benar, maka melalui penggunaan teorinya secara aktif dalam sejumlah masalah yang tepat, siswa dilatih dan diarahkan ke teori yang benar menurut model fisikawan sekarang. Kondisi ini dapat berdampak positif terhadap pengurangan miskonsepsi siswa. Pada kelas eksperimen, guru berfungsi sebagai mediator dan fasilitator, yaitu berperan dalam memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa agar siswa menemukan konsep atau merubah konsepkonsep yang salah. Kesimpulan materi yang telah dipelajari juga dibuat bersama-sama oleh siswa dan guru memberikan penekanan saja. Adanya demonstrasi yang dilakukan oleh guru maka siswa kelihatan semangat dalam menerima pelajaran, Hal ini dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran. Tentunya hal ini dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa sehingga berpengaruh terhadap pengurangan miskonsepsi yang dialami siswa. Hal ini sesuai pendapat Van Den Berg dalam Nana (2006) bahwa pendekatankonflik kognitif  memiliki kelebihan yaitu memperhatikan konsepsi yang salah pada diri siswa, melibatkan siswa secara aktif, membantu siswa dalam usaha memahami suatu konsep dan menanamkan konsep baru dengan benar dan tahan lama. Pembelajaran dengan pendekatan konflik kognitif ini merupakan salah satu pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri, karena keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Dalam pembelajaran ini siswa mengalami
proses asimilasi dan akomodai. Sehingga siswa setiap saat membangun pengetahuannya sampai konsep yang dipahaminya tidak bertentangan dengan konsep para ilmuwan. Hal ini sesuai dengan pendapat Posner dkk dalam Suparno (1997) bahwa dalam proses belajar terdapat proses perubahan konsep melalui proses asimilasi dan akomodasi. Dengan asimilasi siswa menggunakan konsep-konsep yang telah mereka punyai untuk berhadapan dengan fenomena yang baru. Dengan akomodasi siswa mengubah konsepnya yang tidak cocok lagi dengan fenomena baru yang mereka hadapi. Berdasarkan pengamatan peneliti, pada kelas kontrol yang pembelajarannya secara konvensional banyak siswa yang berbicara sendiri pada saat mengikuti pelajaran. Meskipun dalam pembelajaran kelas kontrol tidak selalu menggunakan metode ceramah, kadang diselingi dengan tanya jawab namun siswa tetap tidak merasa tertarik, jadi siswa cenderung pasif dalam menerima pelajaran. Siswa yang aktif hanya siswa-siswa tertentu saja sehingga pada kelas kontrol terlihat
dimonopoli oleh siswa-siswa yang cerdas saja. Sebagian besar siswa menjadi kurang mampu menyelesaikan atau menguasai materi yang disampaikan, sehingga hasil belajar yang diperoleh kurang maksimal. Hal ini sesuai dengan penelitian Sugiyanta (2008) bahwa tingkat ketuntasan belajar kelompok kontrol lebih rendah dibanding kelompok penelitian, yaitu hanya 57,50 %. Hal ini berkaitan dengan intensitas proses kognitif belajar siswa, dimana pembelajaran disampaikan secara konvensional sehingga kurang memberikan rangsangan kognitif yang baik bagi subjek didik. Sehingga hasil belajar yang diperoleh kurang maksimal. Adanya pengurangan miskonsepsi fisika dan peningkatan hasil belajar fisika dalam penelitian ini dikarenakan adanya perlakuan dengan pendekatan konflik kognitif. Hal ini dapat dilihat bahwa miskonsepsi dan hasil belajar siswa sebelum diadakan perlakuan cenderung homogen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 di atas. Sehingga dapat dikatakan kedua kelompok berangkat dari keadaan yang sama. Setelah perlakuan dengan pendekatan konflik kognitif ternyata besarnya miskonsepsi fisika mengalami penurunan dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya pengurangan miskonsepsi fisika dan peningkatan hasil belajar siswa bukan berasal miskonsepsi yang dibawa oleh siswa itu sendiri tetapi dikarenakan adanya perlakuan pembelajaran dengan pendekatan konflik kognitif. Tidak ada cara mengajar yang baik, demikian juga dengan pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika ini. Hal ini sesuai dengan pendapat Van Den Berg (1991) yang mangatakan bahwa pendekatan konflik kognitif ini tidak begitu saja menghasilkan konsep yang benar sehingga pembelajaran dengan pendekatan ini belum tentu maksimal. Pengajar harus pandai menentukan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Mungkin materi kalor lebih cocok jika dalam pembelajaran menggunakan pendekatan yang lain. 
Penutup
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap miskonsepsi fisika. Dalam hal ini terlihat pada taraf signifikansi 5 %, hipotesis penelitian yang menyatakan rata-rata miskonsepsi kelas eksperimen lebih kecil dari rata-rata miskonsepsi kelas kontrol diterima. Selain itu pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar fisika. Dalam hal ini terlihat pada taraf signifikansi 5 %, hipotesis penelitian yang menyatakan rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih besar dari rata-rata hasil belajar kelas kontrol diterima, jadi terlihat ada pengaruh miskonsepsi terhadap hasil belajar. Penul is menyarankan agar guru lebih memperhatikan prasyarat konsep yang harus dimiliki siswa dalam pembelajaran, menyampaikan konsepkonsep dasar secara benar dan membantu siswa dalam menghubungkan antar konsep serta pandai memilih pendekatan pembelajaran untuk mengurangi miskonsepsi fisika yang dialami oleh para siswa. Di samping itu hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dan informasi dalam memilih cara mengajar yang efektif untuk mengurangi miskonsepsi. Selain itu untuk melengkapi penelitian ini, mungkin peneliti lain dapat melakukan penelitian serupa dengan materi yang berbeda atau pendekatan pembelajaran yang berbeda. Atau peneliti dapat menganalisis miskonsepsi untuk masing-masing siswa sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya pendekatan pembelajaran yang digunakan.


DAFTAR PUSTAKA
Psikologi Belajar
Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek
Baser, M. 2006. Fostering Conceptual Change by Cognitive Conflict Based Instruction on Students'
Understanding of Heat and Temperature Concepts., 2(2):1 Kwon, J, dkk. 2006. The Effects of Cognitive Conflict onStudents Conceptual Change in Physics.,4(1).64-79
Lee, G, dkk. 2003. Development of An Instrument for Measuring Cognitive Conflict in Secondary-Level
Science Classes.. 40(6).585-603
Nana. 2006.. Surakarta : Universitas Sebelas Maret (UNS) Sudjana. 2005. . Bandung :Tarsito.
Sugianta. 2008.







Penerapan Metode Demonstrasi Berbantuan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Minat Dan Motivasi Siswa Dalam Pembelajaran Fisika (PKM-AI)


PENERAPAN METODE DEMONSTRASI BERBANTUAN ALAT PERAGA UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menegtahui keefektifan metode demonstrasi berbantuan alat peraga dalam upaya peningkatan minat dan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika pokok bahasan kalor. Penelitian dilaksanakan di SMA Negri Dua Bantaeng, mulai dari 15 Mei sampai 21 Mei 2012. Subjek penelitian adalah kelas X-2, dengan jumlah siswa 33 orang. Penelitian dilakukan dengan dua siklus. Siklus pertama untuk materi ajar perpindahan kalor secara konduksi, dan siklus kedua untuk materi perpindahan kalor secara konveksi. Pada siklus I berdasarkan hasil observasi minat belajar siswa mendapatkan prosentase ketuntasan 80% dan untuk motivasi 80% yang masih dibawah indikator keberhasilan yaitu 85%. Untuk latihan soal siswa sebenarnya sudah cukup bagus yaitu 70, namun masih terdapat 9 siswa yang mendapat nilai dibawah standart yang telah ditentukan atau KKM. Pada siklus II berdasarkan observasi minat belajar siswa mendapatkan prosentase ketuntasan 87% dan untuk motivasi 87% yang sudah di atas indikator keberhasilan yaitu 85%. Peningkatan ini juga dapat dilihat dari latihan soal siswa, dimana pada latihan soal kali ini tidak ada satupun siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM yaitu dengan nilai rata-rata kelas 77.
Kata kunci: minat, motivasi, metode demonstrasi, dan alat peraga

PENDAHULUAN
Fisika adalah ilmu yang yang mempelajari kejadian-kejadian alam serta interaksi benda-benda, atau materi-materi di alam ini (Indrajit, 2002: 1). Fisika juga mempelajari tentang fenomena-fenomena alam. Sebagai ilmu yang mempelajari fenomena alam, fisika juga memberikan pelajaran yang baik kepada siswa untuk hidup berdasarkan hukum alam. Selain itu belajar fisika merupakan suatu pembelajaran untuk memahami konsep-konsep ilmiah dan aplikasinya dalam masyarakat. Fisika merupakan kumpulan pengetahuan dan juga kumpulan proses.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:156) belajar merupakan proses melibatkan manusia secara orang per orang sebagai satu kesatuan organisme, sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Salah satu faktor pendukung belajar adalah minat dan motivasi. Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 2010: 180). Sedangkan motivasi adalah suatu perubahan energi dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik, 2009: 186). Sedangkan untuk meningkatkan minat dan motivasi dalam proses pembelajaran, dapat menggunakan metode demonstrasi. Hasil penelitian oleh Maria dan Mesra (2011) penerapan metode pembelajaran “Demonstrasi” dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran teknik kolase. Hal ini terlihat pada peningkatan aktivitas siswa pada proses pembelajaran serta peningkatan hasil belajar berupa karya keterampilan siswa dalam mengerjakan produk kerajinan teknik kolase yang ditugaskan oleh guru setiap siklusnya.
Menurut Djamarah dan Zain (2006: 90) metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan. Dengan pembelajaran menggunakan metode demonstrasi, maka secara langgsung siswa dapat mengamati hal-hal yang terjadi dalam praktikum alat peraga dan merupakan konsep dasar pembelajaran fisika. Dengan konsep yang benar maka akan mempermudah siswa untuk memahami materi fisika. Peserta didikpun lebih mudah mengingat, menceritakan dan melaksanakan sesuatu (pelajaran) yang pernah diamati (diterima, dialami) di kelas apabila didukung dengan pembelajaran yang menggunakan peragaan-peragaan (media pembelajaran) yang konkrit.
Cabang IPA yaitu Fisika yang penerapannya banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari salah satunya adalah konsep kalor. Konsep kalor merupakan salah satu kompetensi dasar pada sekolah menengah atas (SMA) harus benar-benar dipahami oleh siswa. Untuk mempermudah siswa dalam mempelajarinya digunakan proses belajar dimana siswa mengalami sendiri dalam bentuk mengamati mempraktikkan secara langsung. Dalam kegiatan tersebut siswa akan benar-benar memahami materi yang diajarkan.
Sedangkan untuk menghasilkan pembelajaran fisika yang bermakna maka harus memahami bagaimana pembelajaran fisika yang berpusat pada siswa, yang berangkat dari ketertarikan, minat dan motivasi siswa. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya serap dan pemahaman siswa pada materi yang diajarkan. Serta untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada siswa diharapkan dapat memacu siswa untuk mengoptimalkan kemapuan diri dan mengeksplorasi segala kelebihan yang dimiliki siswa itu sendiri.
Setelah dilakukan observasi mengenai pembelajaran fisika di SMA NEGRI DUA BANTAENG tahun ajaran 2011/2012 Semarang ternyata sebagian besar siswa-siswinya mempunyai perhatian yang kurang terhadap mata pelajaran fisika. Hal ini dikarenakan pembelajaran fisika umumnya dilaksanakan dengan cara yang konvensional sehingga siswa merasa jenuh dan bosan dalam pembelajaran, siswa juga menjadi kurang aktif dalam mengikuti pelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan kurang berpengaruh pada siswa. Kenyataan tersebut diperkuat dengan rendahnya rata-rata hasil ulangan umum semester terutama kelas X.2 yang masih di bawah KKM yaitu 62, dan belum mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). 
Sedangkan Nilai Standar KKM adalah 70. Salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut di atas salah satunya adalah pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Hasil penelitian oleh Sambudi dan Mosik (2009) penggunaan alat peraga papan optik pada pokok bahasan pemantulan cahaya dapat meningkatkan hasil belajar kognitif. Untuk mempermudah penyampaian materi yang diajarkan diperlukan media belajar, salah satu media belajar yang dapat mempermudah siswa untuk mengingat, menceritakan dan melaksanakan sesuatu (pelajaran) yang pernah diamati (diterima, dialami) di kelas adalah alat peraga. Alat peraga yang dibuat adalah alat peraga konduksi dan alat peraga konveksi. Alat peraga ini dibuat untuk membuktikan perpindahan kalor secara konduksi atau
perpindahan kalor melalui zat tanpa disertai perpindahan partikel zat, dan perpindahan
kalor secara konveksi atau perpindahan kalor melalui suatu zat yang disertai dengan perpindahan partikel-partikel zat itu. Alat peraga yang biasa digunakan untuk membuktikan adanya perpindahan kalor secara konduksi dan konveksi biasanya hanya menggunakan alat yang ala kadarnya saja, sehingga memunculkan ide untuk membuat dan merangkai alat peraga konduksi dan konveksi dengan desain yang menarik. Melihat permasalahan di atas, maka penulis tertarik mengambil judul “Penerapan Metode Demonstrasi Berbantuan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Minat dan Motivasi Siswa Dalam Pembelajaran Fisika“.

METODE PENELITIAN
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-2 Semester II SMA Negri Dua Bantaeng, dengan jumlah siswa sebanyak 33 siswa yang terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan, seorang guru, dan seorang teman sejawat. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus dengan tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik analisis data kualitatif digunakan untuk mengetahui mutu untuk kerja individu atau siswa terhadap pembelajaran sains. Pernyataan berdasarkan fakta data kualitatif untuk mengukur keberhasilan.
1. Data Analisis Minat dan Motivasi Siswa Guna mengetahui seberapa besar minat belajar yang ada pada siswa dalam pembelajaran fisika, analisis yang dilakukan pada angket minat belajar siswa adalah sebagai berikut:
Prosentase (%) = x100% Nn
n = jumlah skor seluruh siswa
N = jumlah skor maksimal
% = tingkat prosentasi yang ingin dicapai.
Kriteria penafsiran variabel penelitian ini ditentukan :
Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah dan Inkuiri ... .106
81 – 100 = minat sangat baik
61 – 80 = minat baik
41 – 60 = minat cukup
21 – 40 = minat kurang
0 – 20 = minat tidak baik

2. Data Analisis Motivasi Siswa Guna mengetahui seberapa besar motivasi belajar yang ada pada siswa dalam pembelajaran fisika, analisis yang dilakukan pada angket motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut: Prosentase (%) = x100%Nn
n = jumlah skor seluruh siswa
N = jumlah skor maksimal
% = tingkat prosentasi yang ingin dicapai.
Kriteria penafsiran variabel penelitian ini ditentukan :
81 – 100 = motivasi sangat baik
61 – 80 = motivasi baik
41 – 60 = motivasi cukup
21 – 40 = motivasi kurang
0 – 20 = motivasi tidak baik

HASIL DAN PEMBAHASAN
Secara keselurahan hasil penelitian dari siklus I sampai siklus II baik minat, motivasi belajar dan latihan soal siswa mengalami peningkatan. Seperti terlihat pada Tabel 1 dan tabel 2 untuk respon dan aktivitas siswa dalam kelas.

Pada pembelajaran siklus II terjadi peningkatan pada prosentase ketuntasan minat belajar siswa yang sebelumnya 80% menjadi 87%, sedangkan untuk prosentase ketuntasan motivasi belajar siswa yang sebelumya 80% menjadi 87%. 
Pada pembelajaran siklus II ini juga terjadi peningkatan rata-rata kelas yang awalnya 70 menjadi 77 dengan siswa yang tuntas 33 siswa atau 100%.  Dalam sebuah pembelajaran selain minat dan motivasi belajar, respon dan aktivitas belajar siswa dalam kelas juga harus dicermati. Sedangkan untuk respon dan aktivitas siswa dapat dlihat pada tabel 2 berikut. Dalam sebuah pembelajaran selain minat dan motivasi belajar, respon dan aktivitas belajar siswa dalam kelas juga harus dicermati. Sedangkan untuk respon dan aktivitas siswa dapat dlihat pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Respon dan Aktivitas Siswa



Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan minat, dan motivasi belajar siswa. Dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas ini berhasil.
Senada dengan Sambudi dan Mosik (2009) menyebutkan dalam penelitiannya, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga papan optik pada pembelajaran fisika pada siswa kelas 3 A SMA Negri Dua Bantaeng“Pemantulan Cahaya” dapat dilaksanakan. Berdasarkan data hasil belajar siswa, maka hasil penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan pada siklus II mengalami peningkatan dari pada siklus I, yaitu nilai rata-rata meningkat yang awalnya 71,70 menjadi 79,30 dengan perolehan nilai tertinggi yang awalnya 90,00 menjadi 95,00 dan nilai terendah yang awalnya 40, 00 menjadi 50,00 sedangkan ketuntasan belajar klasikal meningkat yang awalnya 71,40 menjadi 90,5%. Peningkatan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar pada siklus II dikarenakan pengguanaan metode eksperimen dengan menggunakan alat peraga papan optik. Dengan metode ini dapat meningkatkan keaktifan dan semangat belajar siswa. Selain itu alat peraga ini membuat siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata. Pengalaman diperoleh saat siswa mencari jawaban dari masalah yang diutarakan dalam LKS. Dengan pengalaman ini menuntut siswa untuk terlibat langsung baik mental maupun fisik sehingga siswa merasa senang dalam belajar.
Hal ini diperkuat oleh pendapat Arsyad (dalam Sambudi dan Mosik) yang menyatakan bahwa alat peraga membantu guru dalam menciptakan kondisi dan lingkungan belajar yang efektif. Salah satu pengaruh alat peraga dalam hal ini adalah dapat menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa. Dengan peragaan papan optik, siswa tidak hanya mendengarkan ceramah dari guru saja melainkan juga mengamati peragaan yang dilakukan oleh guru, sehingga penyampaian materi kepada siswa lebih efektif serta dapat meningkatkan pemahaman mereka.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas yang telah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan metode demonstrasi berbantuan alat peraga pada mata perlajaran fisika kelas 3 tahun pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan kalor terdapat peningkatan respon dan aktivitas belajar siswa di dalam kelas.
2. Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan metode demonstrasi berbantuan alat peraga pada mata perlajaran fisika kelas 3 tahun pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan kalor terdapat peningkatan minat belajar siswa sebesar 7%.
3. Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan metode demonstrasi berbantuan alat peraga pada mata perlajaran fisika kelas 3 tahun pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan kalor terdapat peningkatan motivasi belajar siswa sebesar 7%.
4. Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan metode demonstrasi berbantuan alat peraga pada mata perlajaran fisika kelas 3 tahun pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan kalor terdapat peningkatan nilai rata-rata latihan soal siswa sebesar 7%.

DAFTAR PUSTAKA
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, S B dan Aswan Z. 2006. Strategi Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Dudi, Indrajit. 2002. Fisika Untuk SMU. Bantaeng: Grafindo Media Pratama.
Hamalik, O. 2009. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

PKM-AI (Pembelajaran Fisika Dengan Metode Inquiry Terbimbing Untuk Mengembangkan Keterampilan Proses Sains 1)


PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN METODE INQUIRY
TERBIMBING UNTUK MENGEMBANGKAN
KETERAMPILAN PROSES SAINS 1
Abstrak
Telah dilakukan penelitian tentang pengembangan keterampilan proses sains pada pokok bahasan fluida melalui kegiatan praktikum fisika dasar. Pada pelaksanaan praktikum berbasis inkuiri tersebut, dengan menggunakan lembar kerja siswa (LKS) dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan merencanakan, keterampilan melaksanakan dan keterampilan mengkomunikasikan. Penelitian ini dilakukan dengan teknik tindakan kelas yang terbagi dalam tiga siklus. Data dalam penelitian ini didapatkan dari teknik tes dan teknik non tes. Data yang berasal dari teknik tes terdiri tes awal dan tes akhir, lembar kerja siswa, dan laporan. Sedangkan untuk data teknik non tes terdiri dari lembar observasi dan lembar angket. Adapun semua data hasil penelitian, dianalisis menggunakan prosentase.Keterampilan merencanakan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan, tetapi dari siklus II ke siklus III mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh materi yang dipelajari lebih sulit, penurunan rumus lebih memerlukan tahap yang panjang, variabel-variabel yang diperlukan lebih banyak, langkah kerja lebih sukar dan peralatan yang dibutuhkan lebih banyak. Keterampilan mengkomunikasikan dari siklus I sampai siklus III terus mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan dalam menentukan tujuan, langkah kerja, cara memperoleh data, dan cara menganalisis data semakin meningkat. Untuk keterampilan dalam penulisan pembahasan dan penulisan kesimpulan juga mengalami peningkatan, walaupun nilai posentasenya masih berada di bawah lebih dari 60 %.
Kata kunci : keterampilan proses sains, praktikum fisika dasar

A. Pendahuluan
Kurikulum baru yang disahkan penggunaannya mulai tahun pelajaran 2004/2005, yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam rangka mencapai keunggulan masyarakat di bidang ilmu dan teknologi. Pembelajaran sains yang dikehendaki dalam KBK merupakan pembelajaran yang didasarkan prinsip-prinsip ilmiah, baik sikap ilmiah, proses ilmiah maupun produk ilmiah.
Prinsip-prinsip ilmiah tersebut dijiwai oleh inkuiri atau penyelidikan sendiri. Dengan demikian, pembelajaran sains tidak pernah lepas dengan kegiatan inkuiri. Dalam kegiatan pembelajaran inkuiri siswa dilatih untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan ilmiah, misalnya mengamati, mengumpulkan data, mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, merancang percobaan maupun menarik kesimpulan. Petunjuk praktikum fisika dasar yang sudah ada, menyebutkan tujuan, alat dan bahan praktikum serta langkah kerja dengan rinci, sehingga siswa tinggal melaksanakan praktikum, tanpa membuat perencanaan percobaan terlebih dahulu. Sehingga dalam pelaksanaan, petunjuk praktikum yang digunakan selama ini kurang mengembangkan keterampilan ilmiah. Dari uraian diatas, penulis memandang perlu untuk mengembangkan keterampilan ilmiah melalui praktikum fisika dasar pada siswa calon guru. Dalam hal ini, peneliti akan membuat petunjuk praktikum yang menuntut siswa calon guru untuk lebih mengembangkan keterampilan ilmiah. Adapun keterampilan ilmiah yang dapat dikembangkan seperti menetapkan tujuan percobaan, merencanakan langkah kerja secara bertahap, menyebutkan variabel dan instrumen yang tepat dalam percobaan tersebut. Dengan ini
penulis mengambil judul “ Pengembangan Keterampilan Proses Sains Bagi Siswa Calon Guru Melalui Praktikum Fisika Dasar Pada Pokok Bahasan Fluida ”. Berdasarkan latar belakang tersebut, kami merumuskan permasalahan pertama keterampilan proses sains apa sajakah yang dapat dikembangkan dalam praktikum fisika dasar ?. Kedua bagaimanakah bentuk petunjuk kegiatan praktikum fisika dasar yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses sains ?
B. Metode Penelitian
Berikut langkah penelitian yang dibagi dalam tiga siklus :

Gambar siklus pelaksanaan penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan objek penelitian siswa kelas 3 mata pelajaran praktikum Fisika. Penelitian ini dilakukan tahun 2008 lokasi laboratorium Fisika.

C. Hasil dan Pembahasan
Penelitian tindakan kelas ini dirancang menjadi 3 siklus dengan 3 macam kegiatan praktikum. Dengan rincian pada siklus I untuk percobaan prinsip archimedes, siklus II untuk percobaan torricelli dan siklus III untuk percobaan viskosimeter bola jatuh. Pengembangan keterampilan proses sains siswa calon guru pada pokok bahasan fluida secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Prosentase komponen keterampilan proses sains secara



Sebelum siswa melaksanakan praktikum, dilakukan tes awal. Dari tes awal tersebut didapatkan nilai rata-rata sebesar 35,58. Nilai tersebut menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang praktikum dengan pokok bahasan fluida masih rendah. Setelah siswa melaksanakan praktikum sebanyak tiga macam, diberikan tes akhir dengan soal yang sama dengan tes awal. Dari tes akhir diperoleh nilai rata-rata sebesar 73,43. Berdasarkan dari nilai tes akhir tersebut, menunjukkan adanya peningkatan yang cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa dengan kegiatan pembelajaran ini, pemahaman siswa menjadi meningkat. Dalam membahas keterampilan proses sains yang dicapai siswa, akan dikelompokkan berdasarkan pada komponenkomponen keterampilan yang dikembangkan.
1. Keterampilan Merencanakan Siklus I, dari nilai prosentase lima komponen keterampilan
merencanakan, hanya tiga macam keterampilan yang sudah memenuhi indikator keberhasilan. Sedangkan dua macam keterampilan yang lain masih berada dibawah indikator keberhasilan, yaitu menetapkan variabel dan cara menganalisis data. Hal yang menjadi penyebab rendahnya kedua macam keterampilan tersebut mungkin siswa belum memiliki persiapan dalam menghadapi praktikum. Hal ini disebabkan mungkin karena siswa saat belajar di sekolah menengah, jarang atau belum pernah melaksanakan praktikum fisika. Nilai prosentase keterampilan merencanakan secara keseluruhan adalah 60,01%. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai prosentase tersebut, mempunyai arti kurang dari cukup. Pada siklus II, semua nilai prosentase lima komponen keterampilan merencanakan berada di atas indikator keberhasilan. Jika dicermati nilai prosentase untuk keterampilan menentukan variabel dan cara menganalisis data, dari siklus I ke siklus II ada peningkatan. Hal ini mungkin disebabkan pada akhir praktikum siklus I, peneliti memberikan pengarahan kepada siswa dalam menentukan variabel dan cara menganalisis data. Nilai prosentase keterampilan merencanakan secara keseluruhan adalah 80,14%. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai prosentase tersebut, mempunyai arti baik. Pada siklus III, nilai prosentase lima komponen keterampilan merencanakan, dibandingkan dengan nilai prosentase pada siklus II, semua komponen mengalami penurunan. Kemungkinan terjadinya penurunan disebabkan oleh materi yang dipelajari lebih sulit, penurunan rumus lebih memerlukan tahap yang panjang, variabel-variabel yang diperlukan lebih banyak, langkah kerja lebih sukar dan peralatan yang dibutuhkan lebih banyak. Nilai prosentase keterampilan merencanakan secara keseluruhan adalah 68,94%. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai prosentase tersebut, mempunyai arti lebih dari cukup.
2. Keterampilan Melaksanakan Pada semua siklus, dari nilai prosentase tujuh komponen keterampilan melaksanakan, sebanyak empat macam keterampilan sudah memenuhi indikator keberhasilan. Sedangkan tiga macam keterampilan yang lain masih berada dibawah indikator keberhasilan. Keterampilan tersebut meliputi memilih alat, ketepatan menggunakan alat dan ketelitian pengamatan. Hal yang menjadi penyebab rendahnya ketiga macam keterampilan tersebut mungkin mahasiswa kurang mengenal alat ukur yang digunakan. Kemungkinan yang lain mahasiswa juga kurang memahami dalam penggunaan alat ukur tersebut. Sehingga siswa menjadi kurang teliti dalam membaca alat ukur. Untuk tiap siklus berikutnya, peneliti memberikan pengarahan untuk pengenalan dan penggunaan alat ukur. Khusus pada siklus II, masih ada keterampilan yang berada dibawah indikator keberhasilan. Keterampilan tersebut yaitu keterampilan dalam melaksanakan kerja praktikum secara urut. Penyebab terjadinya rendahnya nilai prosentase tersebut, mungkin
siswa kurang mempunyai gambaran dengan urutan kerja yang bertahap dalam pelaksanaan praktikum. Nilai prosentase keterampilan melaksanakan pada secara keseluruhan pada siklus I adalah 63,42% dan pada siklus II adalah 60,66%. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai prosentase tersebut, mempunyai arti cukup. Sedangkan untuk nilai prosentase keterampilan melaksanakan pada siklus III secara keseluruhan adalah 58,82%. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai prosentase tersebut, mempunyai arti kurang dari cukup.
3. Keterampilan Mengkomunikasikan Pada siklus I, nilai prosentase keterampilan mengkomunikasikan yang masih berada dibawah indikator keberhasilan yaitu analisis data, penulisan pembahasan dan penulisan kesimpulan. Berdasarkan hasil laporan, untuk siklus I sebagian mahasiswa masih salah dalam menghitung besaran yang diukur secara analitik maupun membuat dan menafsirkannya dalam bentuk grafik. Dalam siklus I ini, peneliti memberikan kebebasan kepada siswa dalam pembuatan laporan. Berdasarkan hasil laporan tersebut, didapatkan bahwa siswa masih kesulitan dalam pembuatan format laporan. Pada penulisan pembahasan, berdasarkan hasil laporan salah satu penyebabnya siswa tidak mencantumkan bagian tersebut. Penyebabnya mungkin, mahasiswa tidak paham dalam urutan pembuatan laporan. Kemungkinan yang lain, siswa berpendapat bahwa laporan hanya berupa mengkomunikasikan hasil data pengamatan dari pelaksanaan praktikum saja bukan menjelaskan didapatkannya hasil data pengamatan tersebut. Sedangkan pada penulisan kesimpulan yang dituliskan siswa dalam laporan, mahasiswa dalam mencantumkan kesimpulan tidak berdasarkan data yang telah diperoleh dalam praktikum, tetapi berdasarkan teori. Hal ini terjadi mungkin siswa belum tahu bahwa dalam penulisan kesimpulan harus berdasarkan data yang diperoleh dalam praktikum. Nilai prosentase keterampilan melaksanakan secara keseluruhan adalah 59,84%. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai prosentase tersebut, mempunyai arti kurang dari cukup. Pada siklus II, keterampilan untuk analisis data meningkat. Ini diartikan mahasiswa telah paham dalam perhitungan secara analitik, menafsirkan data pengamatan dalam bentuk grafik. Sedangkan pada keterampilan dalam penulisan pembahasan dan penulisan kesimpulan meningkat, tetapi nilai prosesentasenya masih berada dibawah indikator keberhasilan. Dilihat dari hasil laporan, siswa sudah mencantumkan pembahasan. Tetapi, siswa cenderung membahas hasil dari data pengamatan bukan yang menjadi penyebab dihasilkannya data pengamatan tersebut. Sama halnya dengan kesimpulan mahasiswa masih juga menyebutkan kesimpulan berdasarkan teori. Walaupun dalam pembuatan laporan peneliti telah memberikan pengarahan pada siswa. Hal ini terjadi mungkin mahasiswa kurang paham dengan penjelasan yang diterangkan oleh peneliti. Nilai prosentase keterampilan melaksanakan secara keseluruhan adalah 72,68%. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai prosentase tersebut, mempunyai arti baik. Pada siklus III, dalam pembuatan laporan, peneliti memberikan pengarahan dengan memberikan pertanyaanpertanyaan pada siswa. Berdasarkan hasil laporan yang didapatkan, untuk nilai persentase keterampilan penulisan pembahasan dan penulisan kesimpulan ada peningkatan, walaupun masih berada dibawah indikator keberhasilan. Hal ini terjadi karena hanya beberapa siswa yang telah benar dalam
mengungkapkan pembahasan dan kesimpulan. Tetapi sebagian siswa yang lain, masih mengungkapkan pembahasan dan kesimpulan seperti laporan pada siklus II. Nilai prosentase keterampilan melaksanakan pada siklus III secara keseluruhan adalah 76,50%. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai prosentase tersebut, mempunyai arti baik.



D. Simpulan
Dari hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan tentang pengembangan keterampilan proses sains bagi siswa calon guru melalui praktikum fisika dasar pada pokok bahasan fluida, didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Keterampilan proses sains dapat dikembangkan dalam praktikum fisika dasar. Keterampilan-keterampilan tersebut meliputi keterampilan merencanakan, keterampilan melaksanakan, dan keterampilan mengkomunikasikan.
2. Dengan menggunakan petunjuk praktikum fisika dasar berbasis inkuiri yang terdiri dari Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) dan lembar evaluasi dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses sains. Walaupun ada beberapa komponen keterampilan-keterampilan yang kurang berkembang dengan menggunakan petunjuk praktikum tersebut. Hal ini disebabkan praktikum pada siklus selanjutnya, materinya semakin sulit, variabel-variabel yang digunakan bertambah, langkah kerja yang dilaksanakan bertambah komplek dan peralatan yang digunakan juga bertambah. Penyebab tersebut didukung dari hasil angket yang diberikan mahasiswa pada akhir praktikum.

Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 1995. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.
             Jakarta: Bumi Aksara
Conny Semiawan, dkk. 1992. Pendekatan Ketrampilan Proses.
Jakarta: Gramedia
Darsono Tjokrosujoso.1994. Dasar-dasar Penelitian. Jakarta:
Universitas Terbuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Diyanto,dkk. 2000. Metode/Pendekatan Discovery Dan Inquiry.
Forum Penelitian XIII. 43:45
Badan Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan. 2004. Pedoman
Akademik. Semarang:Universitas Negeri Semarang
Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. 2003.
Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Fisika. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional
Djoko Sukastomo. 2004. KBK Mengubah Potret Pendidikan. 55. 118.
14. Juni. Hlm. 6
Douglas C. Giancolli. 1997. Fisika Jilid 1. Terjemahan Cuk Imawan.
Jakarta: Erlangga
Karso,dkk. 1993. Dasar-dasar Pendidikan MIPA. Jakarta: Universitas
Terbuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Komarruddin dan Yooke Tjuparmah. 2000. Kamus Istilah Karya Tulis
Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara
Marthen Kanginan.1996. Fisika SMU Edisi Kedua Jilid 1C untuk
Kelas 1. Jakarta: Erlangga
Muhsin Lubis, dkk. 1993. Pengelolaan Laboratorium IPA. Jakarta:
Universitas Terbuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Nurhayati. 2000. Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Matematika Berorientasi Model Pembelajaran Berdasarkan
Masalah (Problem Based Instrution). Makalah. Surabaya:
Universitas Negeri Surabaya
Omang Wirasasmita. 1989. Pengantar Laboratorium Fisika. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Poerwadarminta. 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka
Supriyono Koes H. 2003. Strategi Pembelajaran Fisika. Malang:
Universitas Negeri Malang
Tim Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah. 1999.
Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research).
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
JP2F, Volume 1 Nomor 2 September 2010

14 Judul PKM-AI

workshoppkm-ai.com

Sahabat kali ini kami akan memberikan beberpa judul PKM-AI yang telah dikirim ke dikti yaitu seperti dibawah ini..

  1. Pengembangan Modal Pembelajaran Kooperatif dan Strategi Pemecahan Masalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII C SMP 3 GANTARANGKEKE.
  2. Pembelajaran Fisika Dengan Metode INQUIRY Terbimbing Untuk Mengembangkan Keterampilan Proses Sains 1.
  3. Miskonsepsi Ipa (fisika) Pada Guru Sd.
  4. Pembelajaran Kebencanaan Alam Dengan Model Bertukar Pasangan Bervisi Sets Untuk Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa.
  5. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika Berbasis Media Labolatorium Virtual Pada Materi Dualisme Gelombang Partikel Di SMA NEGERI SATU BISSAPPU.
  6. Implementasi Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Di Sekolah Dasar.
  7. Pengembangan Multimedia Pembelajaran Fisika Berbasis Audio-Video Eksperimen Listrik Dinamis  Di Smp.
  8. Pembelajaran Fisika Melalui Inkuiri Terbimbing Dengan Metode Eksperimen Dan Demonstrasi Ditinjau Dari Aktivitas Dan Perhatian Siswa.
  9. Pemahaman Konsep Siswa Setelah Menggunakan Media Pembelajaran Animasi Fisika Yang Tidak Sesuai Fisika.
  10. Usaha Mengurangi Terjadinya Miskonsepsi Fisika Melalui Pembelajaran Dengan Pendekatan Konflik Kognitif.
  11. Pembelajaran Fisika Dengan Contextual Teaching And Learning (CTL) Melalui Pengalaman Empiris: Kasus Perbedaan Pemahaman Konsep Gerak Melingkar Pada Siswa Kelas X Di SMA NEGERI 2 BANTAENG.
  12. Pengembangan Evaluasi Peta Konsep Untuk Mengukur Struktur Kognitif Pada Pokok Bahasan Pembiasan.
  13. Penerapan Metode Demonstrasi Berbantuan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Minat Dan Motivasi  Siswa Dalam Pembelajaran Fisika.
  14. Model Pembelajaran Berbasis Peningkat Keterampilan Proses Sains 

Pkm

Pkm adalah singkatan dari program kreativitas mahasiswa yang diselenggarakan oleh dikti guna memberi ruang untuk paramahasiswa menunjukkan kreativitasnya. berikut contoh Pkm - K.





PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


USAHA TENUN BERDAYAKAN MAHASISWA UNIVERSITAS MUAHAMMADIYAH MAKASSAR SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN WARISAN BUDAYA BANGSA


BIDANG KEGIATAN
PKM-K


Diusulkan Oleh:

FARADILLAH FAHRI
MIAWATI
RISNAWATI




UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR
2014







DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL   
PENGESAHAN USULAN   
DAFTAR ISI   
RINGKASAN   
BAB 1. PENDAHULUAN
Latara Belakang   
Rumusan Masalah   
Tujuan Program   
Luaran yang Diharapkan   
Kegunaan Program   
BAB 2. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Jenis Usaha   
Peluang Usaha   
Sasaran yang Ditujukan (Konsumen)   
Strategi Pemasaran yang Diterapkan   
Analisis Usaha   
BAB 3. METODE PELAKSANAAN
Persiapan Alat dan Bahan   
Rencana Produksi   
Rencana Pemasaran   
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Rincian Biaya   
4.2 Jadwal Kegiatan   
DAFTAR PUSTAKA   
LAMPIRAN
Biodata Ketua dan Anggota   
Justifikasi Anggaran   
Organisasi Pelaksanaan   
Surat Pernyataan Ketua Pelaksana  



RINGKASAN
Tenun merupakan salah satu warisan budaya bangsa sekaligus kebanggaan yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia. Tenun memiliki makna, nilai sejarah, dan teknik yang tinggi dari segi warna, motif, dan jenis bahan atau benang yang digunakan yang memiliki keunikan tersendiri. Produk tenunan merupakan salah satu dari industri kreatif Indonesia yang merupakan sektor strategis karena mampu memberikan kontribusi cukup besar bagi perekonomian nasional. Proses pembuatannya yang secara manual tanpa menggunakan mesin menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemar kain tenun karena membutuhkan waktu yang lama dan rumit dalam pembuatannya. Tenun sebagai salah satu warisan budaya harus tetap dijaga keeksistensiannya. Kaum remaja terutama mahasiswa seharusnya memiliki kemampuan untuk menjaga warisan budaya ini. Mahasiswa haris difasilitasi agar upaya ini dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu kami akan melakukan suatu usaha tenun berdayakan mahasiswa universitas muhammadiyah Makassar sebagai upaya pelestarian budaya bangsa. Tujuan dari program ini adalah menciptakan usaha yang dapat membantu mempertahankan jati diri dan warisan budaya bangsa, menciptakan peluang usaha baru melalui usaha tenun yang berdayakan mahasiswa, serta mempersiapakan generasi muda sebagai generasi penerus warisan budaya bangsa. Usaha ini akan dikelolah langsung oleh tim pelaksana yang merupakan mahasiswa universitas muhammadiyah Makassar. Proses pelaksanaan terdiri dari tiga tahap, yaitu persiapan alat dan bahan, produksi dan pemasaran. Produksi akan disesuaikan dengan pesanan dan kebutuhan konsumen baik motif maupun ukurannya. Pemasaran dilakukan dengan pembuatan katalog dan secara online melalui facebook. Belum adanya usaha tenun dikalangan mahasiswa dan kemampuan menenun yang dimiliki oleh tim pelaksana menjadi tonggak awal keberhasilan usaha tenun ini.


Kata Kunci : Tenun, Mahasiswa, Warisan Budaya


BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tenun merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang sekaligus kebanggaan yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia. Tenun adalah salah satu karya budaya yang diproduksi di berbagai wilayah di seluruh Nusantara. Tenun memiliki makna, nilai sejarah, dan teknik yang tinggi dari segi warna, motif, dan jenis bahan atau benang yang digunakan yang memiliki keunikan tersendiri. Untuk itu kain tenun baik dari segi teknik produksi, desain maupun produk yang dihasilkan harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya, serta dimasyarakatkan kembali penggunaannya.
Tenun merupakan bagian dari budaya Indonesia dan hampir tiap daerah memiliki tenun dengan ciri khas masing-masing. Saat ini, industri tenun mulai mengalami peningkatan dan ini harus tetap dijaga sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa. Motif kain tenun telah mampu mengikuti perkembangan zaman dan menyesuaikan keinginan konsumen pada masa kini. Keberagaman budaya yang ada di Indonesia membuat kain tenun memiliki beragam corak dan ciri khas tersendiri. Hal ini akan sangat bagus bagi perkembangan kain tenun di Indonesia karena mampu menawarkan differensiasi produk sehingga memiliki konsumennya masing-masing.
Produk tenunan merupakan salah satu dari industri kreatif Indonesia yang merupakan sektor strategis karena mampu memberikan kontribusi cukup besar bagi perekonomian nasional. Hal tersebut terlihat dari jumlah industri kecil dan menengah (IKM) sebanyak 3,4 juta unit pada 2013. IKM juga mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 10,3 juta orang dan memberikan sumbangan signifikan terhadap nilai ekspor sebesar USD 19.579 juta (Buwono, 2014). 
Proses pembuatannya yang secara manual tanpa menggunakan mesin juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemar kain tenun karena membutuhkan waktu yang lama dan rumit dalam pembuatannya. Setiap daerah di Indonesia memilki berbagai macam motif yang memiliki makna yang terkandung dalam setiap kain tenun masing-masing daerah.
Terkait dengan banyaknya daerah yang menjadi produsen tenun, Menperin mengatakan, keberagaman motif dengan perbedaan latar belakang budaya dan lingkungan akan menciptakan keunikan hasil tenun pada setiap daerah. Sementara itu, peningkatan teknik pembuatan yang menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) membuat kualitas dari kain tenun Indonesia tetap terjaga baik, dimana sebelumnya sebagian besar masih banyak menggunakan alat gedokan (Pio, 2014).
Tenun sebagai salah satu warisan budaya harus tetap dijaga keeksistensiannya di kalangan nasional maupun internasional. Hal ini dapat dilakukan dengan dukungan dari berbagai kalangan masyarakat untuk tetap menenun demi mempertahankan warisan budaya bangsa. Melihat kenyataan sekarang, sebagian besar kalangan remaja sudah tidak tau lagi cara menenun dan tidak tertarik dengan hal itu. Mereka hanya bias menjadi konsumen dan tidak bias lagi menjadi produsen. Jika hal ini teru dibiarkan makan masadepan tenun sebagai warisan budaya bangsa di tangan kaum muda bisa saja hilang. 

Kemampuan menenun harus diwariskan kepada kaum remaja sebagai generasi penerus bangsa. Kaum remaja terutama mahasiswa seharusnya memiliki kemampuan untuk menjaga warisan budaya ini. Mahasiswa haris difasilitasi agar upaya ini dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu kami akan melakukan suatu usaha tenun berdayakan mahasiswa universitas muhammadiyah Makassar sebagai upaya pelestarian budaya bangsa, melalui usaha ini mahasiswa tidak hanya menjadi sebagai konsumen ttapi mampu menenpatkan dirinya sebagai produsen yang tentunya akan membantu dalam menjaga eksistensi tenun sebagai warisan budaya bangsa.

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalaha yaitu:
1. Tenun sabagai warisan budaya yang merupakan jatidiri bangsa Indonesia harus selalu dijaga eksistensinya baik dalam kanca nasional maupun internasional.
2. Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang harus meneruskan kemampuan tenun sebagai warisan budaya bangsa. Oleh karena itu mahasiswa harus difasilitasi untuk mendirikan suatau usaha tenun.

C.Tujuan Program
Tujuan program yang hendak dicapai adalah sebagai berikut:
a. Untuk menciptakan usaha yang dapat membantu mempertahankan jati diri dan warisan budaya bangsa.
b. Untuk menciptakan peluang usaha baru melalui usaha tenun yang berdayakan mahasiswa.
c. Untuk mempersiapakan generasi muda sebagai generasi penerus warisan budaya bangsa.

D.Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah:
a. Terciptanya peluang usaha yang mandiri dan lapangan kerja baru bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar.
b. Menumbuhkan kreativitas mahasiswa dan pengalaman berwirausaha.
c. Menciptakan produk tenun sebagai upaya menjaga warisan budaya bangsa.
d. Menciptakan mahasiswa yang paham akan keharusan menjaga kekayaan budaya bangsa.

E.Kegunaan Program
Adapun kegunaan program yang dimaksud adalah:
a. Mempertahankan dan memperkenalkan kekayaan warisan budaya bangsa.
b. Meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam menciptakan peluang usaha baru bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar.
c. Sebagai media pengembangan jiwa berwirausaha dikalangan mahasiswa.
d. Menciptakan mahasiswa yang tidak hanya sebagai konsumen tetapi mampu menjadi produsen.
e. Mencipakan produk tenun sesuai yang dibutuhkan masyarakat.



BAB 2. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA

1.Jenis usaha
Adapun jenis usaha dalam program kreativitas mahasiswa ini, yaitu bergerak dalam usaha pembuatan produk tenun berupa selendang, ataupun skrab bahkan kain yang siap untuk diolah menjadi pakaian atau produk lainnya sesuai kebutuhan konsumen. Tenun yang dikenal sebagai kekayaan bangsa Indonesia perlu dilestarikan dan dimanfaatkan agar tetap menjadi milik Indonesia dan tidak diklaim oleh nagara lain. Produk tenun ini dibuat dengan perpaduan warna yang menarik sesuai dengan tuntutan masyarakat. 

Produk tenun yang kami ciptakan tidak hanya diperuntukkan kepada kebutuhan mahasiswa saja tetapi kepada kebutuhan masyarakat luas. Produk untuk mahasiswa seperti shal atau selendang karena menjadi tren sekarang di kota Makassar untuk menggunakan selendang. Untuk masyarakat umum kami  akan membuat kain tenun yang bisa dibuat menjadi sarung. 

Pembuatan produk juga tergantung ari pesanan masyarakat atau konsumen. Kami akan menerima pesanan dari masyarakat sembari membuat produk-produk yang lain. Kain tenun yang kami hasilkan menggunakan motif bunga dan kami juga akan melayani pesanan nama pada kain tenun yang kami buat. Seperti yang kita ketahuai sebagian besar masyarakat bahakan mahasiswa sangat menyukai produk yang bisa mengukir nama mereka di produk tersebut. Sehingga dengan melihat kenyataan ini, kami yakin usaha tenun yang berdayakan mahasiswa universitas muhammadiyah Makassar ini akan mudah meraih kesuksesan dan akan tetap terjaga eksistensinya dikalangan masyarakat.

2.Peluang usaha 
Masyarakat pada dasarnya menyukai sesuatu hal yang bersifat baru dan unik, apalagi yang berada di sekitar lingkungan kita. Kota Makassar dan sekitarnya merupakan pusat pusat bisnis di indonesia bagian timur yang memiliki prospek usaha yang baik dan menjanjikan untuk berwirausaha. Berwirausaha kain tenun merupakan sebuah peluang usaha yang baru. Usaha ini bergerak dalam embuatan produk-produk tenun dan memasarkannya kepada konsumen.Kecintaan masyarakat terhadap hasil tenun mulai menlonjak sejak adanya pengklaiaman kekayaan budaya Indonesia oleh negara lain. Masyarakat Indonesia tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya dan berusaha untuk memanfaatkan dan memperkenalkan kakayaan tersebut termasuk tenun. Cara yang dilakukan adalah dengan menggunakan produk tenun pada beberapa produk baru.

Usaha tenun di kalangan mahasiswa ini merupakan bentuk kecintaan terhadap warisan budaya bangsa. Ini adalah usaha tenun pertama yang dirintis oleh mahasiswa universitas muhammadiyah Makassar. Oleh karena itu peluang keberhasilan usaha ini sangatlah besar karena tidak adanya pesaing dari luar. Hal lain yang membuat kami yakin adalah karena salah satu anggota tim merupakan orang yang mahir dalam menenun. Hal ini tebukti dari banyaknya produk-produk yang dihasilkan dan dipasarkannya ketika masih tinggal di kampung halaman. Kemampuan itu merupakan warisan dari leluhurnya yang sebagian besarnya berprofesi sebagai penenun.Kemampuan yang dimiliki oleh salah satu anggota tim merupakan modal besar dalam mencapi keberhasilan usaha tenun ini. 

3. Sasaran yang ditujukan (konsumen)
Sasaran yang dituju adalah masyarakat Indonesia pada umumnya dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar pada khusnya. Usaha ini akan dilakuakan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar yang sekaligus menjadi sasaran pemasaran. 

4. Strategi pemasaran yang diterapkan
a. Pemasaran 
Pemasaran produk ini akan dilakukan sendiri oleh tim dengan menggunakan rumah kos sebagai tempat berjualan. Selain itu tim akan melakukan kerjasama dengan mahasiswa lain untuk memasarkan dan memperkenalkan produk kepada masyarakat. Agar pemasaran dapat berjalan lancar, maka dapat dibantu dengan pembuatan brosur, panplet dan katalog. Pemasaran juga dapat dilakukan melalaui online sehingga peluang keberhasilan menjadi lebih besar. Proses pemasaran produk juga bisa dilakukan melalui cara pemesanan.
b.Harga jual
Adapun harga jual yang ditawarkan cukup bervariasi sesuai dengan ukuran dan kesulitan pembuatannya. Adapun harga yang ditawarkan untuk selendang per produknya adalah Rp 65.000,-

5. Analisis usaha
a. Kapasitas produksi : 40 buah
b. Kebutuhan peralatan investasi


c. Kebutuhan bahan baku
                                    : Rp. 14.600,- / unit
Harga Jual             : Rp. 25.000,- / buah
Penjualan             : 25.000 x 40
                                    : Rp. 1.000.000,-
Keuntungan             : Penjualan – (biaya bahan baku + penyusutan)
            : 1.00.000 – 583.700
            : Rp. 416.300,-



Berdasarkan analisis usaha tersebut di atas, maka usaha ini sangat layak untuk dikembangkan sebab setiap pembiayaan 40 buah, diperoleh keuntungan sebesar 77 %.

BAB 3. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Pelaksanaan program usaha tenun ini terdiri dari dua tahapan yaitu : 
1.Persiapan alat dan bahan
Sebelum melakukan penenunan, langkah awal yang akan kita lakukan adalah memepersiapkan alat dan bahan. Hal itu dilakukan agar dapat memperlancar proses produksi sehingga dapat menyesuaikan selera konsumen. Selain itu kelengkapan alat dan bahan dapat menjadi indikator keberhasilan proses produksi yang berkualitas.
2.Rencana Produksi
Tahapan proses produksi selendang tenun ditunjukkan pada diagram berikut:



Gambar 1. Diagram proses produksi selendang tenung

Keterangan : 
-Perancangan ukuran dan motif
Ukuran seendang yang akan dibuat dirancang terlebih dahuu sesuai dengan kebutuhan atau pesanan masyarakat. Sementera itu motif yang akan akan gunuakan dalam selendang tersebut juga harus dirancang. Motif yang akan digunakan adalah motif bunga atau menuliskan nama pemesan sesuai dengan pesanan yang diinginkan.
-Proses Penenunan
Setelah motif dan ukuran yang akan dibuat jelas, amka langkah selanjutnya adalah pembuatan produk. Proses ini memerlukan kemampuan dan kemahiran serta kehari-hatian dalam pembuatannya agar tidak terjadi kesalahan. Pada proses ini produk akan dibuat sesuai dengna pesanan konsumen.
-Proses Pengemasan
Langkah berikutnya setelah proses penenunan selesai adalah pengemasan. Produk dikemas terlebih dahulu dengan kemasan plastik yang menarik sebelum dipasarkan. 

3.  Rencana Pemasaran
Usaha ini akan dikelolah langsung oleh tim yang telah dibentuk. Proses produksi akan disesuiakan dengan jadwal kuliah dan dari pesanan konsumen. Pengenalan produk/promosi akan dilakukan melalui penyebaran pamphlet brosur, dan katalog. Untuk kelancaran penjualan, akan diadakan katalog dan penjualan secara online melalau facebook. Proses penjualan juga akan dilakukan oleh mahasiswa universitas muhammadiyah Makassar dan sekaligus sebagai sasaran pemasaran. Produk ini tidak hanya dijual kepada mahasiswa, tetapi juga kepada masyarakat secara umum dan anak-anak. Produk selendang tenun ini akan segera dipasarkan setelah melalui proses pengemasan.

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Rincian Biaya
Total biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) adalah sebesar Rp 8.460.000,- (Delapan Juta Empat Ratus Enam Puluh Ribu Rupiah).
Perincian biaya diberikan dalam tabel berikut:





4.2 Jadwal Kegiatan
Jadwal Kegiatan kewirausahaan disusun sebagaimana pada tabel berikut.




DAFTAR PUSTAKA
Buwono.2014. http://beritadaerah.co.id/2014/05/13/industri-kain-tenun-sebagai-warisan-budaya bangsa/
Pio.2014.http://blog.indotrading.com/cerminkan-jati-diri-bangsa-tenun-patut-dilestarikan-keberadaannya/

LAMPIRAN
a. Biodata Ketua dan Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan



Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataaan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam mengajukan Hibah

                                                                                        Makassar, 29 September 2014
  
                                                                                               (Faradillah Fahri) 





UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Jl. Sultan Alauddin No.259 Makassar

SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITI/PELAKSANA


Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Faradillah Fahri
NIM : 10535518212
Program Studi :  Pendidikan Bahasa Ingris
Fakultas : FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar

Dengan ini menyatakan bahwa usulan (Isi sesuai dengan bidang PKM) saya dengan judul: “Usaha tenun berdayakan mahasiswa universitas muhammadiyah Makassar sebagai upaya pelestarian warisan budaya bangsa” yang diusulkan untuk tahun anggaran 2015 bersifat original dan belum pernah dibiayai oleh lembaga atau sumber dana lain.

Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas negara. 
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-benarnya.