Contoh Makalah Motivasi dan Manajemen Pengambilan Keputusan

A.  Latar Belakang
Mungkin ada setumpuk pertanyaan, masalah dan keinginan yang berada di kepala anda dan tentu anda ingin menjawab semua pertanyaan, masalah dan keinginan tersebut. Singkat kata, anda ingin meraih keuntungan. Benar kata orang bijak ”Jika cara anda tepat dalam membuat keputusan, maka anda akan terbebas dari berbagai persoalan dalam hidup”.
Manajemen membutuhkan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan mereka. Sistem informasi mempunyai peranan yang penting dalam menyediakan informasi untuk manajemen setiap tingkatan. Tiap-tiap kegiatan dan keputusan manajemen yang berbeda membutuhkan informasi yang berbeda. Oleh karna itu, untuk dapat menyediakan informasi  yang relevan dan berguna bagi manajemen, maka pengembangan system informasi harus memahami terlebih dahulu kegiatan yang dilakukan oleh manajemen dan tipe keputusannya.
Konsep Dasar Motivasi dan Manajemen Pengambilan Keputusan Motivasi berasal dari kata motif yang berarti “segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu”. Sedangkan dalam bahasa inggris kata motivasi adalah berasal dari kata “motivation” yang berarti”daya batin atau dorongan”.
Menurut Clifford T.Morgan: “Motivation is a general term it refers to states within the organism to behavior is directed in other words motivation has three aspect: 1)Motivating state within the organism; 2)Behavior arosed and directed b this state and; 3)The goal to words which the behavior is directerd”.
“Motivasi adalah istilah umum yang menunjukan kepada keadaan (kondisi) yang menggerakan kepada tujuan atau tingkah laku akhir. Dengan kata lain motivasi mempunyai tiga aspek yaitu: 1)Keadaan yang mendorong; 2)Tingkah laku yang di dorong; 3)Kondisi yang memuaskan atau meringankan keadaan yang mendorong”.
Pengambilan keputusan adalah memilih salah satu lebih di antara sekian banyak alternative keputusan yang mungkin. Alternatif keputusan meliputi keputusan ada kepastian, keputusan beresiko, keputusan ketidakpastian dan keputusan dalam konflik.
Keputusan bisa di buat berulang kali secara rutin dan dalam bentuk persoalan yang sama sehingga mudah di lakukan keputusan. Keputusan yang di hadapi mungkin serupa dengan situasi yang pernah di alami, tetapi ada ciri khusus dari permasalahan yang baru timbul.
Teori Pengambilan keputusan, Keputusan yang baru mungkin, persoalan baru yang belum pernah dialami sebelumnya. Salah satu komponen terpenting dari proses pembuatan keputusan adalah kegiatan pengumpulan informasi dari mana suatu apresiasi mengenai situasi keputusan dapat di buat. Pembuat keputusan bisa perorangan atau kelompok baik untuk kepentingan sendiri maupun kepentingan kelompok. Lingkungan keputusan dapat sampai tak terbatas.
Empat Kategori keputusan, Keputusan dalam keadaan ada kepastian (certainty) Keputusan dalam keadaan resiko (risk), Keputusan dalam keadaan ketidakpastian (Uncertainty) Keputusan dalam keadaan ada konflik (conflict).
B.  Rumusan Masalah
1.  Apa pengertian Motivasi?
2.  Apa pengertian Hubungan Motivasi dan Kerja?
3. Apa Teori-Teori Motivasi dan Aplikasi Teori tersebut pada pengelolaan perusahaan?
4.  Apa pengertian Motivasi dan Kepemimpinan?
5.  Apa pengaruh Motivasi bagi peningkatan kerja perusahaan?

C.  Tujuan
 Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah:
1.   Untuk mengetahui pengertian Motivasi.
2.   Untuk mengetahui pengertian Hubungan Motivasi dan Kinerja.
3. Untuk mengetahui Teori-Teori Motivasi dan Aplikasi Teori tersebut pada pengelolaan perusahaan.
4.   Untuk mengetahui pengertian Motivasi dan Kepemimpinan.
5.   Untuk mengetahui pengaruh Motivasi bagi peningkatan kerja perusahaan.


BAB II

PEMBAHASAN

A.   Pengertian Motivasi
Motivasi adalah aktivitas perilaku yang bekerja dalam usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang di inginkan (Fahmi, 2013:107). Untuk memahami lebih dalam definisi motivasi ada baiknya kita melihat beberapa pendapat para ahli berikut ini.
Menurut Chung & Megginson yang di kutip oleh Faustinon Cardoso Gomes (2001:177), menerangakan bahwa”Motivation is defined as/goal-directed behavior.it concerns the level of effort one exerts in pursuing a goal…it’ is closely performance” (motivasi di rumuskan sebagai perilaku yang di tujukan pada sasaran. Motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang di lakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan…motivasi berkaitan erat dengan kepuasan dan performansi pekerjaan).
Menurut Barelson dan Steinerl yang di kutip oleh Ernie Tisnawati (2005) motivasi sebagai ”all those inner striving conditions variously describet as wishes, desire, needs, drives, and the like” (Marchrany,1985). Dengan demikian, motivasi dapat di artikan sebagai keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang memberikan energy, mendorong kegiatan dan menggerakan dan mengarah atau menyalurkan perilaku kearah mencapai kebutuhan yang memberi kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan.
Di sisi lain menurut Santoso Soeroso (2003:69) ”Motivasi adalah suatu set atau kumpulan perilaku yang memberikan landasan bagi seseorang untuk bertindak dalam suatu cara yang di arahkan kepada tujuan spesifik tertentu (specific goal directed way)”.
Berdasarkan pengertian motivasi menurut para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu kondisi atau keadaan yang dimaksudkan untuk mempengaruhi maupun mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu atau tindakan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti yang diinginkan. sehingga motivasi dapat dibagi menjadi dua bagian pokok, yaitu:
a.       Motivasi yang bersumber dari luar diri seseorang, yang dikenal dengan Motivasi Ekstrinsik.
b.      Motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang, yang dikenal denagan Motivasi Instrinsik.

B.       Hubungan Motivasi dan Kinerja
Motivasi dan kinerja seseorang yaitu Penetapan tujuan penting dalam proses motivasi. Anda harus tahu cara menetapkan tujuan bagi diri anda sendiri dan bagaimana bekerja dengan kariawan untuk menciptakan tujuan mereka. Proses penetapan tujuan adalah proses penentuan kinerja yang akan memandu aktivitas selanjutnya. Tujuan yang  ANDA TETAPKAN haruslah realitas, bisa dicapai dan spesifikasi. Jenis tujuan yang anda akan mempengaruhi perilaku yang muncul.
Tujuan yang anda tetapkan haruslah spesifik, baik itu untuk anda sendiri maupun untuk orang lain. Tujuan yang kabur tidak akan menghasilkan tingkat kinerja terbaik. Hanya dengan memerinci dengan pasti apa yang hendak dilakukan, maka tingkat kinerja yang tinggi bisa dicapai. Jika anda hanya meminta karyawan untuk “melakukan yang terbaik”. Maka mereka tidak punya gambaran yang jelas tentang bagaimana seharusnya bekerja.
Menentukan peran uang dalam motivasi. Uang bukanlah satu-satunya motivasi kenyataanya, kini uang tidak lagi menjadi motivator utama. Bila dulu uang digunakan oleh manajemen sebagai penyelesaian masalah, sekarang para karyawan menghendaki lebih sekadar uang, pada tahun 1776, adam smith, seorang ahli ekonomi, menyatakan bahwa ketertarikan dari pada pemerolehan uang merupakan motivator utama bagi semua orang kendati sebagai orang masih memegang asumsi, kebanyakan peneliti sependapat bahwa uang bukan lagi motivator utama.

C.      Teori-teori Motivasi & Aplikasi Teori tersebut pada pengelolaan perusahaan
Teori-teori motivasi
1.    Teori Dua Faktor Hezberg dan penerapan di perusahaan
Frederick Herzberg (Hasibuan, 1990:177) mengemukakan teori motivasi berdasarkan teori dua faktor yaitu faktor higiene dan motivator. Dia membagi kebutuhan Maslow menjadi dua bagian yaitu kebutuhan tingkat rendah (fisik, rasa aman, dan sosial) dan kebutuhan tingkat tinggi (prestise dan aktualisasi diri) serta mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi individu adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya.
Frederick Herzeberg (Hariyanto: 2001) mengembangkan teori hierarki kebutuhan Maslow menjadi teori dua faktor tentang motivasi. Dua faktor ini dinamakan faktor pemuas (motivation factor) yang disebut dengan satisfier atau intrinsic motivation dan faktor pemelihara (maintenance factor) yang disebut dengan dissatisfier atau estrinci motivation.
Menurut Hezberg, faktor-faktor seperti kebijakan, administrasi perusahaan, dan gaji yang memadai dalam suatu pekerjaan akan menentramkan karyawan. Bila faktor-faktor ini tidak memadai maka orang-orang tidak akan terpuaskan (Robbins, 2001:170).
Menurut hasil penelitian Herzberg ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam memotivasi bawahan (Hasibuan, 1990:176) yaitu :
a.       Hal-hal yang mendorong karyawan adalah pekerjaan yang menantang yang mencakup perasaan berprestasi, bertanggung jawab, kemajuan, dapat menikmati pekerjaan itu sendiri dan adanya pengakuan atas semua itu
b.      Hal-hal yang mengecewakan karyawan adalah terutama pada faktor yang bersifat embel-embel saja dalam pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat dan lain-lain sejenisnya.
c.       Karyawan akan kecewa bila peluang untuk berprestasi terbatas. Mereka akan menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mencari-cari kesalahan.
2.  Teori Harapan (Victor H. Vroom’s Expectancy Theory) dan penerapan di perusahaan
Victor Vroom  (Robbins, 2003:229). teori harapan, di katakan  seseorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia menyakini upaya akan menghantar ke suatu penilaian kinerja yang baik
            Karena ego manusia yang selalu menginginkan hasil yang baik baik saja, daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang terkandung dari harapan yang akan diperolehnya pada masa depan (Hasibuan 2001:165). Apabila harapan dapat menjadi kenyataan, karyawan akan cenderung meningkatkan gairah kerjanya. Sebaliknya jika harapan tidak tercapai, karyawan akan menjadi malas. Teori ini dikemukakan oleh Victor Vroom yang mendasarkan teorinya pada tiga konsep penting:
a.       Harapan (expentancy)
Suatu kesempatan yang diberikan terjadi karena prilaku. Harapan merupakan propabilitas yang memiliki nilai berkisar nol yang berati tidak ada kemungkinan hingga satu yang berarti kepastian.
b.      Nilai (Valence)
Akibat dari prilaku tertentu mempunyai nilai atau martabat tertentu (daya atau nilai motivasi) bagi setiap individu tertentu.
c.       Pertautan (Inatrumentality)
            Persepsi dari individu bahwa hasil tingkat pertama akan dihubungkan dengn hasil tingkat ke dua.Vroom mengemukakan bahwa pertautan dapat mempunyai nilai yang berkisar antara –1 yang menunjukan persepsi bahwa tercapinya tingkat ke dua adalah pasti tanpa hasis tingkat pertama dan tidak mungkin timbul dengan tercapainya hasil tingkat pertama dan positip satu +1 yang menunjukan bahwa hasil tingkat pertama perlu dan sudah cukup untuk menimbulkan hasil tingkat ke dua.
Manajemen Berdasarkan Sasaran (Management By Objectives =MBO) menggunakan teori penetapan tujuan ini. Berdasarkan tujuan-tujuan perusahaan, secara berurutan, disusun tujuan-tujuan untuk divisi, bagian sampai satuan kerja yang terkecil untuk diakhiri penetapan sasaran kerja untuk setiap karyawan dalam kurun waktu tertentu.
Selanjutnya dapat dipahami bahwa penerapan teori harapan di perusahaan kiranya seorang manajer (pimpinan) selalu melakukan hal-hal seperti berikut :
a.  Tentukan tujuan organisasi secara jelas dan tentukan pula kreteria kinerjanya.
b.     Pimpinan perusahaan (instansi) selalu menyediakan insentif (pendorong kerja) yang menarik, baik berupa penghargaan dalam bentuk uang maupun penghargaan lain, agar para karyawan (terutama bawahan) bersedia mencapai tujuan organisasi melalui upaya mencapai kinerja sesuai dengan kreteria yang telah ditetapkan.
c.       Pimpinan perusahaan (instansi) secara teratur menjelaskan tentang umpan balik tujuan perusahaan (instansi), sehingga setiap karyawan mengetahui posisi peranannya dalam perusahaan (instansi).
d.      Gunakan cara manajemen partisipatif di mana para karyawan diikutsertakan dalam pengambilan keputusan tertentu di mana mereka dapat melakukan pekerjaan dengan baik.
e.        Pertemuan atau berunding dengan karyawan bawahan dilakukan berdasarkan komonikasi dua arah. Dalam hal ini kedua pihak harus menjadi pendengar yang baik didasari niat yang baik demi peningkatan kinerja perusahaan (instansi).
f.       Secara khusus memberikan orientasi pengenalan ruang lingkup kerja kepada karyawan baru tentang pekerjaan atau tugas yang diinginkan oleh perusahaan (instansi). Hal ini dipertlukan agar karyawan baru dapat cepat menguasai tugasnya sesuai degan kebutuhan instansi (perusahaan).

D.   Motivasi dan Kepemimpinan
Motivasi dan kepemimpinan merupakan salah satu faktor kunci dalam fungsi pengarahan dan implementasi dari manajemen organisasi. Motivasi terkait dengan berbagai hal yang mendorong seseorang untuk menunjukan perilaku tertentu dalam organisasi dan lingkunganya.
Terdapat berbagai pendekatan dalam menjelaskan teori motivasi, di antaranya adalah pendekatan klasik dan kontemporer. Yang termasuk ke dalam pendekatan klasik mengenai teori motivasi adalah mencakup pendekatan tradisional, pendekatan relasi manusia, dan pendekatan manajemen SDM.
Yang termasuk ke dalam pendekatan kontemporer mengenai teori motivasi adalah mencakup pendekatan kebutuhan, pendekatan keseimbangan dan keadilan, pendekatan pengharapan, pendekatan penguatan, dan pendekatan penyusunan tujuan. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk memengaruhi perilku orang lain agar mereka maudi arahkan untuk mencapai tujuan organisasi (Thoha, 2015:121).
Dalam praktiknya, kepemimpinan dibedakan dengan manajemen. Kepemimpinan dalam implementasi rencana memotivasi dan memberikan inspirasi peran pada saat implementasi adalah memotvasi orang-orang yang teah sepakat bekerjasama untuk melakukan implementasi dari apa yang telah di bangun sebagai upaya bersama.
 Terdapat beberapa pendekatan dalam menjelaskan teori-teori kepemimpinan, antara lain pendekatan personal, pendekatan perilaku, dan pendekatan kontingens (Fahmi,2016)
Selain ketiga pendekatan tersebut di atas, di kenal pula beberapa pendekatan kontemporer lainya seperti pendekatan substitusi terhadap kepemimpinan, kepemimpinan karismatik, dan kepemimpinan transformative. Perilaku politis dapat di lakukan manajer atau seseorang karena dana tujuan tertentu yang ingin di raihnya dalam organisasi. Pada praktiknya, beberapa perilaku politis ini bisa berupa inducement, persuasion, creation of obligation, dan coercion. Manajer perlu mempertimbangkan berbagai perilaku dan tindakannya sekiranya ingin mampu mengendalikan dan mengelola perilaku-perilaku politis yang di tunjukan para anggotanya. Tujuan seorang pemimpin memberikan motivasi kepada bawahannya adalah :
a.    Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan.
b.    Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan.
c.    Meningkatkan produktivitas karyawan.
d.    Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan
e    Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan.
f.     Mengefektifkan pengadaan karyawan.
g.    Meningkatkan suasana dan hubungan kerja yang baik.
h.    Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan.
i.     Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan.
j.    Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya.
k.    Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku
E.   Pengaruh Motivasi bagi peningkatan kerja perusahaan
Dalam kehidupan organisasi, pemahaman terhadap motivasi bagi setiap pemimpin sangat penting artinya, namun motivasi juga dirasakan sebagai sesuatu yang sulit. Hal ini dikemukakan oleh Wahjosumidjo (1994:173) sebagai berikut :
a. Motivasi sebagai suatu yang penting (important subject) karena peran pemimpin itu sendiri kaitannya dengan bawahan. Setiap pemimpin tidak BOLEH  tidak harus bekerja bersama-sama dan melalui orang lain atau bawahan, untuk itu diperlukan kemampuan memberikan motivasi kepada bawahan.

b.    Motivasi sebagai suatu yang sulit (puzzling subject), karena motivasi sendiri tidak bisa diamati dan diukur secara pasti. Dan untuk mengamati dan mengukur motivasi berarti harus mengkaji lebih jauh perilaku bawahan. Disamping itu juga disebabkan adanya teori motivasi yang berbeda satu sama lain.

Motivasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja. Semakin tinggi motivasi kerja semakin tinggi pula kepuasan kerja pegawai atau anggota organisasi. Sebaiknya pemimpin harus terus memotivasi para pegawainya agar kepuasan juga menjadi tinggi. Kepuasan kerja mempengaruhi kinerja, sehingga berdampak pada prestasi yang lebih baik.
.

BAB III


PENUTUP

A.   Kesimpulan
Sebagai Kesimpulan, kami ingin memberikan tambahan sebagai kesimpulan yang lebih jelas dan mudah dipahami oleh pembaca. Berikut ini lima kiat terbaik (emas) yang menjadi landasan dan ukuran dalam membuat keputusan kreatif,efektif dan praktis.
1. Sebelum membuat keputusan,berdoalah kepada Allah dan lakukan shalat istikarah.
2. Siapkan perangkat ilmu (teori,metodologi) yang cukup sebelum membuat keputusan.
3.  Melakukan Musawarah (sharing experiences) untuk membuat keputusan.
4. Lebih mengedepankan pertimbangan rasio dari pada emosi dalam membuat keputusan.
5. Hati-hati dari pengaruh(pihak lain),dan jangan lengah serta tidak boleh tertipu (terprovokasi).

B.  Saran
Dalam mengambil keputusan dalam manajemen,kita perlu mempelajari beberapa aspek yang sudah kami susun dalam Pembahasan makalah ini,kita semua pasti tidak menginginkan keputusan yang kita ambil adlah keputusan yang bisa membuat kita menyesal di kemudian hari.Untuk itu dalam makalah ini sangat perlu dan di butuhkan oleh semua mahasiswa yang masih memerlukan ilmu dan pengetahuan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan kehidupan di masa yang akan datang agar menjadi manusia yang lebih baik. Aamiin


                 
Daftar Pustaka
Ernie, Tisnawati (2005) Pengantar manajemen.Kencana,Jakarta
Edi, Sutrisno (2009) Manajemen sumber daya manusia.Kencana,Jakarta
Fahmi, Irham (2013) Perilaku Organisasi. Bandung :Alfabeta
____________(2016) Manajemen pengambilan keputusan teori dan aplikasi. Alfabeta, cv,Bandung
Gomes, Faustino Cardoso (2001) Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta:  Andi Offset
Hasibuan, Melayu S.P (1990) Manajemen Sumber daya manusia. Jakarta: CV Haji Masagung
  _______________(2001)  Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Harianto,Sugeng (2001) Manajemen Skill,Prenada media,Jakarta
Juliansah,Nor (2013) Peneliitian ilmu manajemen,Pramedia grup,Jakarta
Robbins, Stephen P (2001) “Perilaku organisasi” Jild 1 Edisi 8, PT Prenhalindo, Jakarta
_______________ (2003)  Perilaku organisasi. Index Jakarta
Santoso, Soeroso (2003) Manajemen Sumber Daya Manusia di Rumah Sakit; Suatu Pendekatan Sistem. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Wahjosumidjo (1994) Kepemimpinan dan Motivasi Pendidikan. Jakarta : Ghalia Indonesia

Manajemen Keputusan Risiko



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata “Resiko” dan sudah biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari oleh kebanyakan orang. Resiko  merupakan bagian dari kehidupan kerja individual maupun organisasi.  Berbagai macam resiko, seperti resiko kebakaran, tertabrak kendaraan lain di jalan, resiko terkena banjir di musim hujan dan sebagainya, dapat menyebabkan kita menanggung kerugian jika resiko-resiko tersebut tidak kita antisipasi dari awal.  Resiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Sebagaimana kita pahami dan sepakati bersama bahwa tujuan berwirausaha adalah membangun dan memperluas keuntungan kompetitif dalam organisasi.
Aktivitas suatu badan usaha atau perusahaan pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari aktivitas mengelola resiko. Operasi suatu badan usaha atau perusahaan biasanya berhadapan dengan resiko usaha dan resiko non usaha. Imam Ghazali dalam Kasidy, Manajemen Resiko (2010) menyatakan bahwa, resiko usaha adalah resiko yang berkaitan dengan usaha perusahaan untuk menciptakan keunggulan bersaing dan memberikan nilai bagi pemegang saham. Sedangkan resiko non usaha adalah resiko lainnya yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan.
Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.  Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan.  Menurut Wideman, ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (opportunity), sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan disebut dengan istilah resiko (risk).  Dalam beberapa tahun terakhir, manajemen resiko menjadi trend utama baik dalam perbincangan, praktik, maupun pelatihan kerja.  Hal ini secara konkret menunjukkan pentingnya manajemen resiko dalam bisnis pada masa kini.
Oleh karena itu penulis mengambil judul makalah “ MANAJEMEN KEPUTUSAN RISIKO”

B.  Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian dari risiko dan manajemen risiko?
2.    Apa pengertian dari manajemen risiko keputusan?
3.    Apa manfaat dan tahap-tahap dalam melaksanakan manajemen risiko?
4.    Apa alternatif-alternatif keputusan dalam menghindari risiko?
5.    Apa keputusan pemimpin perusahaan dalam menyelesaikan risiko?

C.  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian risiko dan manajemen risiko.
2.      Untuk mengetahuia pengertian dari manajemen risiko keputusan
3.      Untuk mengetahui manfaat dan tahap-tahap dalam melaksanakan manajemen risiko.
4.      Untuk mengetahui alternatif-alternatif keputusan dalam menghindari risiko.
5.      Untuk mengetahui keputusan pemimpin perusahaan dalam menyelesaikan risiko.

    
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Risiko dan Manajemen RisiKo
Risiko merupakan bahaya : risiko adalah ancaman atau kemungkinan suatu tindakan atau kejadian yag menimbulkan dampak yang berlawanan dengan tujuan yang ingin dicapai. Risiko juga merupakan peluang: risiko adalahn sisi yang berlawanan dari peluang untuk mencapai tujuan. Guna mempertahankan eksistensi kehidupan, maka diperlukan suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan, diperlukan tindakan atau aktivitas. Aktivitas memiliki risiko jika dampaknya berlawanan. Sebaliknya, aktivitas memberikan peluang untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
Manajemen resiko adalah suatu sistem pengawasan risiko dan perlindungan harta benda, hak milik dan keuntungan badan usaha atau perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu resiko.
B.      Pengertian Manajemen Keputusan Risiko
Manajemen risiko keputusan adalah suatu ilmu yang menggabungkan antara risiko dan keputusan untuk dilihat dan di manage agar mampu memberikan hasil sesuai dengan pengharapan para pengambil keputusan. Entuk mewujudkan itu bagi para pengguna ilmu manajemen risiko keputusan diharuskan untuk memahami persoalan secara komprehensif dan realistis sesuai dengan kondisi yang ditemui dilapangan.
3
Bahwa harus diakui dalam setia keputusan yang dibuat selalu saja menyimpan risiko yang bias timbul. Pengambilan keputusan yang berisiko adalah dihasilkannya suatu keputusan yang mengandung lebih dari satu kemungkinan hasil berdasarkan beberapa alternative keputusan yang diambil, dank arena terdapat beberapa alternative maka otomatis terdapat pula beberapa eluang yang sama besarnya.
Untuk mengatasi risiko yang timbul dalam suatu organisasi baik yag bersifat profit maupun yang non-profit adalah dengan menerapkan manajemen risiko. Dalam manajemen risiko ini dibahas bagaimana mengolola risiko aar bias memberikan keuntungan serta mekanisme memperkecil risiko. Bahwa jika risiko itu bias dikelola secara sistematis maka ia akan memberikan keuntungan yang sistematis juga begitu juga sebaliknya. Maka dari itu dibutuhkan kapasitas keilmuan yang mencukupi guna mengolola risiko yang sudah dan akan timbul nantinya.
C.  Manfaat dan Tahap- tahap Dalam Melaksankan Risiko
1.     Manfaat manajemen risiko
Dalam buku manajemen risiko Drs. Hermawan Darmawi menuliskan beberapa manfaat manajemen risiko yaitu sebagai berikut:
a.    mendukung pencapaian tujuan
b.    memungkinkan untuk melakukan aktivitas yang memberikan peluang yang jauh lebih tinggi dengan mengambil risiko yang lebih tinggi; risiko yang lebih tinggi diabil dengan dukungan sikap dan solusi yang sesuai terhadap risiko
c.      mengurangi kemungkinan kesalahan  fatal
d.      menyadari bahwA risiko dapat terjadi pada setiap aktivitas dan tingkatan dalam organisasi sehingga setiap individu harus mengambil dan mengelola risiko masing-masing sesuai sengan wewenang dan tanggung jawab.
2.    Tahap- tahap dalam melaksanakan manajemen risiko
Untuk mengiplementasikan manajemen risiko secara komprehensif ada beberapa tahap yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan, yaitu
a.     Identifikasi risiko adalah kegiatan mengidentifikasikan semua risiko uang usaha yang dihadapi, baik risiko yang bersifat spekulatif maupun risiko sifatnya murni.
b.     Menidentifikasi bentuk-bentuk risiko. Pada tahap ini diharapkan pihak maajemen telah mampu menemukan bentuk-bentuk dan format risiko yang dialami.
c.     Menempatkan ukuran ukuran risiko. Pada tahap ini pihak manajemen sudah menempatkan ukuran atau skala yang dipakai, termasuk rancangan model metedologi penelitian yang akan digunakan.
d.     Menempatkan alternatif-alternatif pada tahap pihak manajemen perusahaan melakukan pengelolaan data.
e.     Menganalisis setiap alternatif. Pada tahap ini dimana setiap alternatif yang ada selanjutnya dianalisis dan dikemukakan berbagai sudut pandang serta efek-efek yang mungkin timbul.

D.      Alternatif-alternatif  Keputusan Dalam Menghindari Risiko
Salah satu penghalang orang meraih kesuksesan, melangkah lebih lanjut, mencoba menyelesaikan tugas,mengatasi masalah, dan memutuskan untuk berhenti adalah rasa takutnya yang terlampau besar. Bila ia mempunyai rasa takut yang berlebihan, maka dampaknya akan negatif (tidak baik) dalam penyelesain masalah.
Kegagalan orang dalam berwirausaha adalah besarnya rasa takut yang mengubur untuk mencoba menjadi wirausahawan. Teknik pemecahan masalah yang harus dilakukan adalah kalahkan rasa takut anda yang ternyata hanya sebuah angan-angan yang berlebihan. Padahal dalam kenyataannya, hal itu tidak seperti yang anda bayangkan. Contoh
1.    Dulu sewaktu kecil, kita tidak takut belajar berjalan karena kita tidak mengenal rasa takut, yang setelah besar akhirnya bisa berjalan dengan mempersiapkan terlebih dahulu faktor keamanannya.
2.    Kita melihat api lilin dan takut menyentuhnya, tetapi pelan-pelan jari kita mendekatinya maka api lilin itu tidak menakutkan bukan?bahkan bisa kita matikan dengan dua jari.
3.    Takut gagal dalam memulai sebuah usaha atau menjadi wirausahwan. Hal ini dikarenakan kita belum mengetahui apa  yang terjadi. Coba jika bertanya kepada seseorang, membaca buku kehirausahaan, mencoba terlebih dahulu, ikut orang berbisnis, maka niscaya rasa takut itu bisa hilang perlahan-lahan.


E.   Keputusan Pemimpin Perusahaan Dalam Menyelesaikan Risiko
Berdasarkan pandangan para ahli  yaitu Robins (1997);Drommond (1985);Monday dan Premeuax (1995)  dapat dirumuskan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternatif untuk menetapkan suatu tindakan yang ingin dilakukan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Pengambilan keputusan merupakan proses memilih sejumlah alternatif pengambilan keputusan penting bagi manajer administrator karena proses pengambilan keputusan mempunyai peran penting dalam motivasi kepemimpinan,komunikasi,koordinasi,dan perubahan organisasi. (usman,2013;440).
Dapat dipahami bahwa betapa pentingnya seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan, sebab apabila dalam sebuah organisasi tidak ada pengambilan keputusan, maka dipastikan organisasi tersebut tidak akan mengalai kemajuan, apalagi peningkatan kualitas organisasi, kendati pengambilan keputusan tersebut dimungkinkan menimbulkan risiko yang tidak diharapkan. Oleh karena itu dibuthkan keahlian seorang pemimpin dalam mengambil keputusan sebab ketetapan pengambilan keputusan sangat mempengaruhi tercapainya tujuan organisasi. Pengambilan kepututsan pada dsarnya adalah memilih, sebab dalam pengambilan keputusan biasanya terdapat beberapa alternatif untuk dipilih yang terbaik dari beberapa pilihan yang tersedia.
Pengambilan keputusan juga bisa dipandang sebagai sebuah tindaka untuk menyelesaikan permasalahan. Biasayna keputusan diambil karena terdapat masalah yang harus dicarikan solusi, maka pengambilan keputusan sangat diperlukan agar masalah yang ada tidak larut-larut  hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang filakukan oleh Didi Wahyu Sudirman (2003;001) yang menunjukkan bahwa seorang manajer harus mampu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi secara cerdik dan berkualitas melalui pengambilan keputusan yang dilakukan secara cepat dan efektif. Dalam kontek dunia pendidikan misalnya kita ambil dalam satuan pendidikan sekolah, hampir setiap saat seorang pemimpin dalam hal ini seorang kepala sekolah selalu diperhadapkan dengan berbagai masalah yang timbul yang harus diputuskan dalam rangka memecahkan masalah. Misalnya dalam suatu
sekolah tertentu terdapat anak yang terlibat tawuran dengan anak-anak sekolah lain, dimana anak-anak yang terlibat tawuran adalah anak anak yang sudah biasa melakukan tawuran dengan berbagai usaha untuk mencegahnya namun belum memberikan hasil signifikan, maka kepala sekolah sebagai pemimpin perlu menentukan langkah-langkah strategis mengatasi masalah agar tidak berlarut-larut. Mengacu teori yang diajukan oleh veithzal rivai maka kepala sekolah perlu menetapkan masalah, dalam arti mencari sumber masalah yang sesungguhnya, selanjutnya perlu mengidentifikasi masalah mengapa anak-anak itu terlibat tawuran, mengembangkan beberapa alternatif pemecahan untuk proses penyembuhan anak dari kebiasaan tawuran, kemudian melakukan berbagai evaluasi dari berbagai alternatif sehingga bisa menemukan alternatif terbaik dengan tujuan dapat menyembuhkan anak yang terbiasa tawuran tanpa harus mengorbankan  risiko yang tidak seharusnya dikeluarkan.
Pengambilan keputusan yang efektif dilakuakn oleh pemimpin, yaitu pengambilan keputusan yang biasa dibutuhkan dalam situasi yang mendesak. Agar dapat mengambil keputusan yang efektif, terdapt beberapa model pengambilan keputusan yaitu model simon, model rasional,dan model klasik.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Manajemen resiko adalah suatu sistem pengawasan risiko dan perlindungan harta benda, hak milik dan keuntungan badan usaha atau perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu resiko. risiko adalahn sisi yang berlawanan dari peluang untuk mencapai tujuan. Guna mempertahankan eksistensi kehidupan, maka diperlukan suatu tujuan.
Manajemen risiko keputusan adalah suatu ilmu yang menggabungkan antara risiko dan keputusan untuk dilihat dan di manage agar mampu memberikan hasil sesuai dengan pengharapan para pengambil keputusan
Salah satu penghalang orang meraih kesuksesan, melangkah lebih lanjut, mencoba menyelesaikan tugas,mengatasi masalah, dan memutuskan untuk berhenti adalah rasa takutnya yang terlampau besar. Bila ia mempunyai rasa takut yang berlebihan, maka dampaknya akan negatif (tidak baik) dalam penyelesain masalah.
Dapat dipahami bahwa betapa pentingnya seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan, sebab apabila dalam sebuah organisasi tidak ada oengamilan keputusan, maka dipastikan organisasi tersebut tidak akan mengalai kemajuan, apalagi peningkatan kualitas organisasi, kendati pengambilan keputusan tersebut dimungkinkan menimbulkan risiko yang tidak diharapkan.









DAFTAR PUSTAKA

   Hendro, 2001. Dasar-dasar kewirausahaan, Jakarta: Erlangga














9