Pengertian Sosiologi, Ciri-ciri dan Hakikatnya Sebagai Ilmu pengetahuan

A Pengertian Sosiologi
Istilah Sosiologi pertama kali di kemukakan oleh  ahli filsafat, moralis, dan sekaligus sosiolog kebangsaan Prancis, Auguste Comte, melalui Cours de Philosophie Positive. Menurut Comte sosiolog berasal dari kata latin socius yang artinya teman atau sesama dan logos dari kata yunani yang artinya cerita. Jadi pada awalnya sosiologi, berarti bercerita tentang temann atau kawan (masyarakat). Sebagai sebuah ilmu, Sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil pikiran-pikiran ilmiah dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau  umum. Berikut ini definisi-definisi sosiologi menurut para ahli.
Pitirim Sorokin
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari:
  • Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala agama, gejala keluarga, dan gejala moral);
  • Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial (gejala geografis, biologis);
  • Ciri-ciri umumsemua jenis gejala-gejala sosial lain.
  1. Roucek dan Werren Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok 
  2. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial. 
  3. J.A.A. von Dorn dan C.J. Lammers Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. 
  4. Maf Weber Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial. 
  5. Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi Sosiologi adlah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari tentang struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial. 
  6. Paul B. Horton Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada akehidupan kelompok dan produk dari kehidupan kelompok tersebut. 
  7. Soerjono Soekanto Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

 Pola-pola perilaku, hubungan, dan tindakan
 individu sebagai anggota masyarakat seperti
 tampak dalam pertandingan volly pada gambar diatas
     
William Kornblum
Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.

Allan Johnson
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut memengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya memengaruhi sistem itu


Dari beberapa definisi diatas dapat dirangkum bahwa sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat, serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, dan empiris tentang masyarakat. Rasional berarti apa yang dipelajari sosiologi berdasarkan penalaran dan empiris


B. Ciri-Ciri Sosiologi

Sosiologi merupakan salah satu bidang ilmu sosial yang mempelajari masyarakat. Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Empiris, Artinya ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif (menduga-duga)
  2. Teoritis, artinya sesuatu ilmu pengetahuan yang selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil pengamatan. Abstraksi tersebut merupakan kesimpulan logis yang bertujuan menjelaskan sebab akibat sehingga menjadi teori.
  3. Kumulatif, artinya disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada, atau memperbaiki, memperluas serta memperkuat teori-teori yang lama.
  4. Nonetis, artinya pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapi lebuh bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam.
C. Hakikat Sosiologi

Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut:
  1. Sosiologi adalah ilmu sosial, hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa sosiologi mempelajari atau berhubungan dengan gejala-gejala kemasyarakatan.
  2. Dilihat dari segi penerapannya, sosiologi dapat figolongkan kedalam ilmu pengetahuan murni (Pure since) dan dapat pula menjadi ilmu terapan (applied science)
  3. Sosiologi adlah ilmu yang abstrak dan bukan bukan pengetahuan yang konkret. Artinya, yang menjadi perhatian adalah bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri.
  4. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum masyarakat. sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia serta sifat, betuk, isi dan sturuktur masyarakat.

Demikian artikel mengenai Pengertian Sosiologi, Ciri-ciri dan Hakikatnya Sebagai Ilmu Pengetahuan, semoga bermanfaat, terima kasih atas perhatian anda.

Referensi:
  • Muin, Idianto. 2013.Sosiologi SMA/MA untuk kelas X. Jakarta: Erlangga
.

Hubungan Sosiologi dengan Ilmu ilmu Lain

Sosiologi bukanlah merupakan ilmu yang berdiri sendiri. Dalam teori dan prakteknya, sosialisasi juga mempunyai keterkaitan dengan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu sejarah, ekonomi, ilmu politik, hukum, antropologi dan psikologi.
1. Sosiologi dan Sejarah
Kedua ilmu ini termasuk dalam ruanglingkup ilmu sosial dan menyoroti tindakan manusia dan peristiwa-pwristiwa yang terjadi dalam masyarakat. sejarah meyoroti terutama pada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Sejarawan ingin menggambarkan seakurat mungkin, apa yang sesungguhnya terjadi pada manusia, terutama pada periode ketika dia mulai menetap dalam suatu kota dan membentuk suatu perbedaan.Sejarawan pun mencoba mempelajari sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut, karena menurutnya memahami masa lampau tidak hanya memahami bagaimana peristiwa tersebut terjadi tetapi juga penyebab terjadinya peristiwa tersebut. Selain itu sejarawan ingin mengetahui segalanya mengenai peristiwa dan menggambarkannya dengan keunikan yang dimiliki masing-masing peristiwa.Di lain pihak walaupun para sosiolog pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama dengan para sejarawan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau tetapi sosiolog sebenarnya hanya tertarik pada proses-proses sosial yang dihasilkan dari peristiea-peristiwa yang terjadi sosiolog pun tidak hanya tertarik pada peristiwa itu sendiri tetapi lebih pada pola-pola yang ditampilkan. Dengan kata lain sejarawan hanya menyoroti hal-hal yang unik saja yang dimiliki oleh masing-masing peristiwa, sedangkan sosiolog menyoroti peristiwa secara menyeluruh, tetap dan berulang. Artinya sejarah menyoroti persamaan-persamaan pada peristiwa yang ada dari peristiwa-peristiwa yang berbeda. Contoh, sejarawan, menyoroti perang Dunia 1 dan perang Dunia 2, dan perang lainnya yang terjadi pada waktu yang berbeda. Sosiolog dalam hal ini menyoroti tidak pada msing-masing perang yang terjadi tetapi lebih kepada perang itu sendiri secara keseluruhan dimana perang dianggap sebagai fenomena sosial yaitu sebagai salah satu jenis konflik diaantara kelompok sosial. 
 
2. Ekonomi, Ilmu politik, Hukum, dan Sosiologi
Ekonomi merupakan ilmu yang menyelidiki semua fenomena yang berhubungan dengan usaha, produksi, konsumsi, dan distribusi sumber daya. Ilmu politik meneliti tentang pemerintahan dan menjelaskan tentang kompleksitas pemerintahan. Sedang ilmu hukum mengkhususkan diri untuk mempelajari hukum, sifat, dasar, dan perubahan-perubahannya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ilmu-ilmu ini membatasi penelitiannya hanya pada peristiwa atau pengalaman-pengalaman tertentu, bea dengan sosiologi yang tidak terbatas pada satu jenis peristiwa saja.
3. Psikologi dan Sosiologi
Psikologi merupakan ilmu tentang perilaku. Ilmu ini mengkhususkan terutama pada manusia sebagai individu. Psikologi menyoroti kecerdasan ilmu, ingatan yang miliki manusia, dan hal-hal penting yang berhubungan secara langsung dengan manusia sebagai individu. Sebaliknya, sosiologi tidak menyoroti individu tetapi menyoroti kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan lingkungan masyarakat tempat ia tinggal. Selain itu sosiologi, pun tidak menyoroti perilaku individu secara khusus tapi pada bentuk dan struktur sosial di mana perilaku tersebut termasuk didalamnya.
4. Antropologi dan Sosiologi
Antropologi merupakan ilmu lain yang dekat dengan sosiologi. Keduanya mengkhususkan dirinya pada masyrakat manusia. Tapi pada dasarnya antropologi secara langsung memberikan perhatian terutama pada masyarakat yang belum berbudaya atau tidak beradab yaitu anggotanya yang belum bisa membaca, menulis atau masyarakat yang msih primitif. Dalam mempelajari masyarakat, para antropolog meneliti bentuk-bentuk organisasi sosial dan hubungan sosial dimana kedua hal tersebut juga merupakan  bidang yang diteliti oleh sosiolog. Antropolog juga meneliti ekonomi, agama, pemerintahan, bahas, legenda, adat istiadat, juga meneliti kepribadian yang dimiliki manusia dalam masyarakat. Berbeda dengan antropolog, sosiolog membatasi dirinya pada masyarakat yang sudah beradab, yaang sudah dapat membaca dan menulis. Sosiolog tidak mempelajari ekonomi, agama, pemerintahan, bahasa, sastra yang ada di masyarakat, tetapi lebih kepada organisasi sosial, struktur sosial, di mana di dalamnya berbagai fenomena sosial terjadi.
Demikian Artikel tentang Hubungan Sosiologi Dengan Ilmu-ilmu Lain, semoga bermanfaat, dan terimakasih atas perhatian Teman-teman
Referensi:
  • Sri wahyuni Niniek dan Yusniati. 2004. Manusia dan Masyarakat. Jakarta: Ganeca Exact

Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan

Apakah sosiologi merupakan ilmu pengetahuan? untuk mencari jawabannya, kamu perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan. Dalam arti singkat, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematism dengan menggunakan pemikiran, yang
dapat diperiksa secara kritis oleh orang lain atau umum (bersifat objektif). Pengetahuan merupakan hasil penggunaan panca indra, hal ini berbeda sekali dengan kepercayaan , tahayyul, dan informasi-infformasi yang keliru. Misalnya, anggapan bahwa ras kulit putih lebih pandai dari ras-ras warna kulit lain. Anggapan itu tidak dapat di buktikan kebenarannya dan kepastiannya dan hal itu tidak di anggap sebagai pengetahuan. Pengetahuan justru bertujuan untuk untuk memperoleh kepastian dan menghilangkan prasangka-prasangka.

Tidak semua pengetahuan merupakan ilmu, hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang merupakan ilmu pengetahuan. Artinya, pengetahuan tersebut terdiri dari unsur-unsur  yang merupakan kebulatan dan menggambarkan garis besar ilmu pengetahuan tersebut.

Pengetahuan diperoleh berdasarkan fakta yang diterima dengan melihat atau mendengar sendiri, seperti lewat surat kabar, mendengar radio, meliaht televisi. Kemudian apa yang dilihat dan didengarkan itu diterima dan diolah oleh otak.

Menurut sifatnya ilmu pengetahuan dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
  1. Ilmu pengetahuan eksak, yaitu bidang ilmu tentang hal-hal yang bersifat konkret yang dapat diketahui dan diselidiki berdasarkan percobaan serta dapat dibuktukan dengan pasti seperti matematika fisika, dan biologi,
  2. Ilm upengetahuan  yang bersifat noneksak, dalam hal ini adalah ilmu-ilmu sosial.
Suatu iulmu dinamakan sebagai ilmu sosial karena ilmu tersebut mengambil masyarakat sebagai objek yang dipelajarinya yaitu masyarakat, manusia yang selalu berubah. Sosiologi sendiri merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah manusia atau masyarakat dan telah mempunyai unsur-unsur pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Bersifat empiris, yaitu didasarkan pada observasi atau pengamatan dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulatif atau mengira-ngira. Jadi sosiologi itu didasarkan pada pengamatan dan penalaran. Sifat empiris ini sering dihubungkan dengan sifat ilmu yang dapat diuji dengan fakta. Contohnya maraknya anak jalanan yanng sering kita jumpai di perempatan jalan (dapat diamati dengan panca indra) merupakan akibat dari masalah  ekonomi keluarga yang rendah tingkat pendidikan yang rendah.
  2. Bersifat teoritis, arrtinya sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang selalu berusaha menyusun abstrak dan hasil-hasil observasi atau pengamatan. Abstrak tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjelaskan hubungan sebab akibat, Dari contoh diatas dapat dilihat adanya hubungan sebab akibat, yaitu akibat terbenturnya masalah ekonomidan pendidikan yang rendah mengakibatkan terbentuknya anak jalanan
  3. Bersifat Kumulatif, artinya teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang sudah ada kemudian diperbaiki, diperluas dan siperhalus. Dalam contoh anak jalanan diatas, terlihat bahwa teori-teori yang digunakan merupakan teori yang sudah ada yaitu pendidikan dan keluarga.
  4. Bersifat nonetis, artinya yang dipersoalkan bukan baik buruknya faktor tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk  menjelaskan fakta tersebut secara analitis atau melalui penyelidikan terhadap suatu peristiwa. Dari contoh diatas keberadaan anak jalanan tidak dapat dikatakan buruk dalam analisisnya, akan tetapi sosiologi berusaha menjelaskan tentang keberadaan anak jalanan beserta sebab-sebabnya.
Berdasarkan ciri-ciri di atas sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mempelajari gejala-gejala sosial, mengumpulkan kenyataan-kenyataan dengan cara efektif, guna menghasilkan pengetahuan lain untuk memperluas pengertian tentang suatu gejala yang telah terjadi dan apa penyebab timbulnya gejala tersebut. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Prof. M M. Djojogoento, S.H., bahwa sosiologi itu bersifat pengawikan artinya sosiologi ingin mengetahui keadaan sebenarnya dari kehidupan bermasyarakat.


Demikian artikel tentang Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan, semoga bermanfaat bagi kita semua, terimahkasih atas perhatian teman-teman.

Referensi:
  •  Sri wahyuni Niniek dan Yusniati. 2004. Manusia dan Masyarakat. Jakarta: Ganeca Exact. hal 6-8.

Metode Dalam Sosiologi

Sosiologi dalam mempelajari objeknya yaitu masyarakat, mempunyai cara kerja atau metode. Pada dasarnya terdapat dua jenis metode atau cara kerja, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif.
1) Metode Kualitatif.
Metode kualitatif merupakan metode yang mengutamakan bahan yang sukar di ukur dengan angka-angka atau ukuran-ukuran  lain yang bersifat eksak walaupun bahan-bahan tersebut terdapat secara nyata dalam masyarakat. Metode ini dalam istilah bahasa Jerman dinamakan metode Verstehen (mengerti atau memahami).
Metode yang termasuk kedalam metode kualitatif adalah sebagai berikut.
  1. Metode Historis, merupakan metode yang menggunakan analisi atau penyelidikan atas peristiwa masa lampau yang kemudian dirumuskan menjadi prinsip-prinsip umum. Cintih, seseorang yang akan menyelidiki dari revolusi (secara rumus) akan menggunakan bahan-bahan sejarah untuk meneliti revolusi-revolusi penting yang terjadi pada masa lampau.
  2. Metode Kompratif, merupakan metode perbandingan antara berbagai macam masyarakat serta segala bidangnya untuk memperoleh persamaan-persamaan, perbedaan-perbedaan, dan sebab-sebabnya. Persamaan dan perbedaan tersebut tujuannya untuk mendapatkan petunjuk mengenai perilaku masyarakat pada masa lampau dan masa sekarang, serta mengenai masyarakat-masyarakat yang mempunyai tingkat peradaban yang berbeda atau sama, Metode ini biasanya dikombinasikan dengan metode sejarah sehingga menjadi metode historis.
2) Metode Kuantitatif
 Metode ini merupakan metode yang menggunnakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka, sehingga fakta-fakta sosial yang diteliti diukur dengan skala indeks, tabel atau formula yang sedikit banyak menggunakan matematika. Metode yang termasuk dalam  metode ini adalah, sebagai berikut.
  1. Metode statistik, Bertujuan menjelaskan gejala-gejala sosial secara sistematis
  2. Metode Sosiometri, menggunakan skala-skala dan angka-angka untuk mempelajari hubungan anta manusia dan masyarakat.
Menurut Soerjono soekanto, ada beberapa metode sosiologi berdasarkan penjenisan.
  1. Metode deduktif, adalah metode yang menggunnakan proses berpikir bermula dari pernyataan-pernyataan umum ke pernyataan yang bersifat khusus. Contoh meneliti minat siswa dan prestasinya, dimulai dari teori tentang minat, selanjutnya dilihat kedalam fakta yang ada dilapangan bagaimana prestasi siswa.
  2. Metode Induktif, adalah metode yang menggunakan proses berpikir bermula dari pengamatan kejadian khusus   kemudian ditarik kekesimpulan umum.
  3. Metode empiris, adalah metode yang menyandarkan diri pada keadaan-keadaan yang dengan nyata diperoleh dalam masyarakat. 
  4. Metode rasionalistis, adalah metode yang mengutamakan pemikiran dengan logika dan pikiran sehat untuk mencapai pengertian tentang masalah kemasyarakatan. Metode ini sampai sekarang masih digunakan para sarjana sosiologi terutama di Eropa. 
Selain dari metode-metode yang diatas, sosiologi juga sering, menggunakan metode-metode fungsionalisme yang bertujuan untuk meneliti kegunaan lembaga-lembaga kemasyarakatan  dan struktur sosial dalam masyarakat. Dasar metode ini adalah bahwa unsur-unsur yang membentuk masyarakat mempunyai hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi, setiap unsur mempunyai fungsi tersendiri dalam masyarakat. 
Dalam menggunakan metode penelitian, para ahli sosiologi sering menggunakan  lebih dari satu metode untuk menyelidiki objeknya. Sosiologi dan ilmu pengetahuan lainnya, selain menggunakan metode-metode tersebut juga mempunyai alat-alat tersendiri yang disebut konsep.  Konsep ini digunakan unuk menganalisis masalah yang terdapat dalam lapangan.
Dalam penerapannya, Metode-metode dalam sosiologi memiliki keterbatasan yaitu sebagai berikut.
  1. Permasalahn yang ada dalam masyarakat sangat rumit
  2. Kesukaran dalam pengamatan karena objek kajiannya bersifat subjektif.
  3. Kesukaran dalam replikas, artinya karena gejala sosial tidak mungkin terulang dalam bentuk yang persis sama sehingga pengamatan harus benar-benar teliti.
  4. Hubungan timbal balik antara pengamat dan objek kajian. Objek kajian sering kali dapat mempengaruhi subjektif si pengamat.
  5. Kesukaran dalam pengendalian objek pengamatan, karena manusia pada dasarnya adalah mahluk unik.
  6. Kesukaran dalam masalah pengukuran, karena ilmu sosial tidak sama dengan ilmu alam yang serba pasti.
Jadi seorang sosiolog dengan pola yang digunakannya berupaya menemukan perssamaan atau perbedaan dari hal-hal yang selalu terjadi di masyarakat atau berusaha mencari pola dari hal-hal yang kelihatannya tidak beraturan kemudian melakukan pengamatan. Sebelum melakukan observasi, peneliti terlebih dahulu mengusahakan hipotesis, yaitu pengamatan sementara tentang hubungan antara hal-hal yang terjadi kemudian dilakukan pembuktian terhadap hipotesis tersebut sehingga memperoleh sebuah teori.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosiologi sebagai metode berarti cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Demikian artikel tentang Metode Dalam Sosiologi, semoga bermanfaat bagi kita semua, dan terimakasih atas perhatian teman-teman.
 Referensi: 
  • Sri wahyuni Niniek dan Yusniati. 2004. Manusia dan Masyarakat. Jakarta: Ganeca Exact. hal 9-12

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

Interaksi sosial, sebagai aksi dan  reaksi yang timbal, balik digerakkan oleh faktor-faktor dari luar individu. Menurut Soekanto, terdapat empat faktor yang menjadi dasar proses interaksi sosial.

1. Imitasi
Imitasi adalah tindakan sosial meniru sikap, tindakan, tingkah laku, atau penampilan fisik seseorang secara berlebihan. Sebagai suatu proses, Imitasi berdampak positif bila yang ditiru adalah individu yang baik dimata masyarakat. sebaliknya, imitasi menjadi negatif, bila yang ditiru hal negatif pula. Imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah dan nilai yang berlaku. Akan tetapi, imitasi yang berlebih dapat pula melemahkan perkembangan daya nalar dan daya kreasi seseorang.

2. Sugesti 
Sugesti adalah pemberian pengaruh atau pandangan dari satu pihak kepada pihak lain. Akibatnya, pihak yang dipengaruhi akan bergerak mengikuti pengaruh/pandangan  itu dan menerimanya secara sadar atau tidak sadar tanpa berfikirr panjang. Sugesti biasanya dilakukakan dari orang-orang yang berwibawa dan berpengaruh besar silingkungan sosialnya, dari kelompok besar (mayoritas) terhadap kelompok kecil (minoritas), ataupun orang dewasa terhadap anak kecil. Cepat atau lambatnya proses sugesti sangat tergantung pada usia, kepribadian, kemampuan intelektual, dan keadaan fisik seseorang.

3. Identifikasi 
Identifikasi adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Orang yang menjadi sasaran iddentifikasi dinamakan Idola (kata idol berarti sosok yang dipuja).
Identifikasi merupakan proses lebih lanjut dari proses imitasi dan proses sugesti yang pengaruhnya telah amat kuat. Misalnya, seorang remaja mengidentifikasi dirinya dengan seorang penyanyi terkenal yang ia kagumi. Lalu, ia akan berusaha mengubah penampilan dirinya agar sama dengan penyanyi idolanya, mulai dari model rambut, pakaian, gaya bicara, bahkan sampai makanan kesukaan.

Pada umumnya proses identifikasi secara kurang disadari oleh seseorang. Namun, yang pasti, sang idola yang menjadi sasaran identifikasi, Benar-benar dikenal, entah langsung (bertemu,berbicara) ataupun langsung (melalui media informasi)

4. Simpati 
Simpati adalah suatu proses seseorang merasa tertarik dengan orang lain. Rasa tertarik ini didasari oleh keinginan untuk mengerti pihak lain demi memahami perasaannya ataupun bekerja sama dengannya. Dibandingkan ketiga faktor interaksi sebelumnya, Proses simpati relatif lebih lambat, tapi pengaruhnya lebih mendalam dan tahan lama. Agar simpati dapat berlangsung, kedua pihak perlu saling mengerti. Pihak yang satu terbuka mengungkapkan pikiran ataupun isi hatinya, pihak yang lain mau menerimanya, itulah sebabnya, simpati menjadi dasar hubungan persahabatan.

Berlangsungnya suatu proses interaksi yang didasarkan pada berbagai faktor diatas, di antaranya faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak  sendiri-sendiri secara terpisah atau dalam keadaan yang bergabung. Apabila masing-masing ditinjau secara lebih mendalam, faktor imitasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya adalah imitasi dapat mendorong seseorang  untuk mematuhi nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian, ikitasi mungkin pula mengakibatkan terjadinya hal-hal negatif dimana yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang. Selain itu, imitasi juga dapat melemahkan bahkan mematikan pengembangan daya kreasi seseorang.

Demikian artikel tentang Faktor yang mempengaruhi Interaksi Sosial, semoga bermanfaat bagi kita semua, dan terimakasih atas perhatian teman-teman.

Referensi:
 Muin Idianto. 2006. SOSIOLOGI SMA/MA untuk kelas X. Jakarta: Penerbit Erlang

Agen-agen Sosialisasi

Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen  sosialisasi yang utama, yaitu keluarga, kelompok bermain, lembaga pendidikan sekolah, dan media masssa.
A. Keluarga
Bagi keluarga inti, agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (exxtented family), agen sosialisasinya menjadi luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri dari beberapa keluarga yang meliputi kakak, nenek, paman, dan bibi, di samping anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orang yeng berada diluar anggota kerabat biologis anak. Kadang kala terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologinya, misalnya pengasuh bayi. Menurut Gertrudge jaegar, peran para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar, karena anak sepenuhnya berada dalam lingkungan keluarga terutama orang tuanya sendiri.

B. Teman bermain
Disebut juga 'kelompok sebaya', dialami anak setelah ia mampu bepergian keluar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula sangat berpengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalm membentuk kepribadian seorang individu.
Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajad, sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi orangorang yang sederajad dengan dirinya karena sebaya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang  yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.
B. Sekolah
Dalam lembaga pendidikan sekolah (Pendidikan formal), seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian, prestasi, universalisme, dan kekhasan. Di lingkungan rumah, seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi disekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri penuh rasa tanggung jawab.
D. Media massa
Yang termasuk kelompok media massa disini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), dan media eletronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh Media sangat tergantung pada kualitas  dan frekuensi pesan yang disampaikan.
Contoh:
  • Penayangan berita-berita peperangan, film-film, dan adegan-adegan kekerasan dan sadisme diyakini telah banyak memicu peningkatan perilaku agresif pada anak-anak yang menontonnya.
Pesan-pesan  yang disampaikan agen sosialisasi berlainan dan tidak selamanya sejalan satu sama lain. Apa yang diajarkan oleh orang tua mungkin saja berbeda dengan agen sosialisasi lain. Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi tidak bertentangan  atau  selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, dalam masyarakat, sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi-situsi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan.
Demikian tulisan tentang Agen-agen sosialisasi, semoga bermanfaat bagi kita semua, atas perhatian teman-teman saya ucapkan banyak terima kasih.

Hubungan Antara Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan

Kebudayaan dan masyarakat dapat dibedakan secara teori. Oleh karena itu, anda pun dapat menunjuk suatu perubahan sebagai perubahan sosial ataupun sebagai perubahan kebudayan. Akan tetapi, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah menentukan letak garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan-perubahan kebudayaan. Hal itu disebabkan tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan. Sebaliknya, tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak menjelma dalam suatu masyarakat. Walaupun secara garis besar teoritis dan analitis pengertian-pengertian tersebut dapat dirumuskan, tetapi dalam kehidupan yang nyata, garis pemisah tersebut sukar untuk dipertahankan.
Menurut Kingsley Davis, perubahan-perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan-perubahan kebudayaan. Perubahan-perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian kebudayaan, termasuk didalamnya kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan segala wujud budaya. Misalnya, Kingsley Davis mengemukakan peubahan logat bahasa yang terjadi pada bahasa-bahasa orang  Aria setelah terpisah dengan induknya, perubahan-perubahan tersebut tidak memengaruhi organisasi sosial dari masyarakat-masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut lebih merupakan perubahan kebudayaan daripada perubahan sosial. Perubahan-perubahan dalam kebudayaan memiliki ruang lingkup yang lebih luas. Sudah tentu, ada unsur-unsur kebudayaan yang dapat dipisahkan dari masyarakat, tetapi perubahan dalam kebudayaan tidak perlu memengaruhi sistem sosial.
Perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan memiliki satu aspek yang sama yaitu keduanyaan berkaitan dengan penerimaan cara-cara baru atau suatu penilaian dari cara-cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Hall ini berarti garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan dalam kehidupan seharu-hari, semakin sulit untuk ditegaskan. Biasanya antara kedua gejala tersebut dapat ditemukan hubungan timbal balik sebagai sebab dan akibat. Akan tetapi dapat pula terjadi perubahan kebudayaan tidak menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Misalnya, dalam perubahan model pakaian dan perubahan tari-tarian dapat terjadi tanpa mempengaruhi sistem sosial. Akan tetapi, suatu perubahan sosial akan selalu didahului oleh perubahan kebudayaan. Misalnya lembaga keluarga, perkawianan, atau negara tidak akan mengalami perubahan apanila tidak ada perubahan yang fundamental dalam kebudayaan.
Suatu perubahan sosial dalam bidang kehidupan tertentu, juga tidak akan berhenti dalam suatu titik. Maksudnya, perubahan sosial akan diikuti oleh perubahan-perubahan sosial lainnya. Hal ini terjadi karena struktur lembaga-lembaga kemasyarakatan bersifat jalin menjalin. Misalnya, apabila suatu negara mengubah undang-undang dasar, akan terjadi banyak perubahan yang tidak terbatas bukan pada lembaga-lembaga politk saja, tetapi akan mempengaruhi bidang ekonomi, struktur kelas sosial, dan bidang-bidang lainnya yang saling berkaitan.
Demikian penjelasan mengenai Hubungan Antara Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan, semoga bermanfaat.

Pengertian Modernisasi, Syarat dan Faktor yang Mempengaruhinya

Sudah menjadi keharusan bagi kita yang hidup di era modernisasi ini untuk mengetahui apa itu Modernisasi, Syarat dan faktor yang mempengaruhinya. Nah pada artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Semoga bermanfaat.
1. Pengertian Modernisasi
Istilah modernisasi diambil dari kata dasar modern yang berasal dari bahasa latin, modernus, yang dibentuk dari dua buah kata, yaitu modo berarti akhir-akhir ini dan ernus yang menunjukkan adanya periode waktu masa kini. Pengertian modernisasi adalah proses yang ditempuh untuk sampai atau menuju periode waktu "masa kini" tersebut. Pemakaian istilah modernisasi saat ini tidak sesederhana seperti yang dapat dipahami dari arti harfiahnya. Istilah modernisasi, ternyata telah dipakai untuk menyatakan adanya suatu perubahan sosial yang sangat besar yang telah berhasil membentuk kembali perkembangan sejarah peradaban dan kebudayaan umat manusai dalam kurun waktu yang berlainan. Periode pertama yaitu ketika perubahhan sosial yang terjadi pada abad ke-16 dan ke-17 di Eropa yang dikenal Abad pencerahan atau Aufklarung/Enlightment. Periode kedua, yaitu ketika perubahan sosial yang terjadi pada permulaan abad ke-20 yang ditandai tumbuhnya negara-negara baru diberbagai belahan dunia yang tengah menjalankan proses pembentukan sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Ada beberapa pengertian Modernisasi menurut para ahli, yaitu sebagai berikut.
  • Astrid S. Susanto. Modernisasi adalah kesempatan proses pembangunan yang diberikan oleh perubahan demi kemajuan.
  • Koentjaraningrat. Modernisasi adalah usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang.
  • Soerjono Soekanto. Modernisasi adalah suatu bentuk perubahan sosial yang biasanya merupakan perubahan sosial yang  terarah (directed change) yang didasarkan pada suatu perencanaan yang disebut social planning.
  • Alex Thio. Modernisasi adalah suatu bentuk perubahann sosial berupa perubahan masyarakat pertanian menjadi masyarakat industri.
  • Harold Rosenberg. Modernisasi adalah sebuah tradisi baru yang mengacu pada urbanisasi atau sampai sejauh mana dan bagaimana pengikisan sifat-sifat pedesaan suatu masyarakat berlangsung.
  • Wilbert E. Moore. Modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah-arah pola-pola ekonomis dan politis yang menandai negara-negara barat yang stabil.
Berdasarkan baerbagai pendapat tersebut, Pengertian modernisasi adalah suatu proses perubahan dan pergeseran sikap serta perilaku warga masyarakat untuk hidup sesuai dengan tuntutan keadaan.
 
2. Syarat-syarat Modernisasi 
Syarat-syarat modernisasi menurut Soerjono Soekanto, yaitu sebagai berikut.
  1. Cara berpikir ilmiah (scientific thinking) yang bersifatttttt institusional dalam masyarakat (the ruling class). Hal itu menghendaki suatu sistem pendidikan dan pengajaran yang terencana dengan baik.
  2. Sistem administrasi negara yang baik dan benar-benar mewujudkan birokrasi.
  3. Adanya sistem pengmupulan data yang baik dan teratur, terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu. Hal ini memerlukan penelitian yang terus-menerus agar data tersebut tidak tertinggal.
  4. Penciptaan iklim yang baik (favourable) dari masyarakat terhadap modernisasi dengan cara menggunakan alat-alat media massa. Hal itu harus dilakukan tahap demi tahap karena banyak sangkut-pautnya dengan sistem kepercayaan masyarakat (belief system)
  5. Tingkat organisasi yang tinggi karena yang terjadi biasanya di satu pihak berarti disiplin, sedangkan dipihak lain dianggap pengurangan kemerdekaan.
  6. Sentralisasi (pemusatan) wewenang dalam perencanaan sosial (soccial planning).
 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Modernisasi
  Faktor-faktor yang mempengaruhi Modernisasi, di antaranya sebagai berikut.
  1. Adanya penemuan, perkembangan, serta penguasaan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Perkembangan dibidang politik dan ideologi (demokratisasi).
  3. Kemajuan dibidang perekonomian dengan penerapan sistem efesiensi dan produktifitas.
  4. Pekembangan dibidang pelaksanaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Memajukan bidang industri dan pertanian.
  6. Tercapainya stabilitas nasional agar hidup tenteram, aman dan damai. 

Pengertian Organisasi

Di lingkungan kita terdapat banyak organisasi misalnya perguruan tinnggi, toko retail atau departement store, rumah sakit, lembaga pemerintahan, lembaga kepolisian, bank, perusahaan manufaktur, dan sebagainya. Organisasi tersebut ada yang berukuran besar atau kecil, milik pemerintah atau suasta. Ada organisasi yang berniat mencari laba, ada pula organisasi yang tidak bertujuan mencari laba/nonprofit.
 Apakah organisasi itu? Organisasi adalah suatu unit sosial yang terdiri dari dua orang atau lebih, dikoordinasi secara sadar, dan berfungsi dalam suatu dasar yang relatif terus-menerus untuk mencapai satu atau serangkaian tujuan (Rrobbins dan Jugde, 2007) Berdasarkan pengerian tersebut. maka suatu organisasi memiliki unsur-unsur sebagai berikut.
  1. Organisasi merupakan suatu sistem sosial, yang terdiri dari dua orang tau lebih sehingga sehingga terjadi interaksi antar individu.
  2. Dikoordinasi secara sadar dan berfungsi dalam suatu waktu yang terus-menerus. Koordinasi yang dilakukan secara sadar mencakup koordinasi usaha, suatu tujuan bersama, pembagian tenaga kerja, dan hierarki kewenangan, yang membentuk struktur organisasi (kreitner dan Kinicki, 2005).
  3. Organisasi dibentuk untuk mencapai satu atau beberapa tujuan. Ada irganisasi yang bertujaun mencari laba dan ada yang tidak bertujan mencari laba.

Demikianlah artikel mengenai Pengertian Organisasi Semoga bermanfaat.

Pengertian Perilaku Organisasi

A. Pengenrtian Perilaku Organisasional
Perilaku organisasional/organizational behavior adalah bidang studi yang mempelajari pengaruh yang dimiliki poleh individu, kekelompok, dan struktur terhadap perilaku dalam organisasi, yang bertujaun menerangkan bidang ini agar organisasi menjadi lebih efektif. Perilaku organisasi mengajarkan tiga faktor penentu perilaku organisasional yaitu, individu, kelompok, dan struktur. Perilaku organisasional juga menerapkan ilmu yang diperoleh tentang individu, kelompok, dan pengaturan strukur terhadap perilaku, dengan tujuan agar organisasi dapat bekerja secara lebih efektif. Grenberg dan Baron (2003) mendefinisikan perilaku organisasional sebagai bidang multidispliner/multidisciplinary yang mempelajari perilaku individu, kelompok, dan proses dalam organisasi secara sistematis.Berdasarlan definisi tersebut, maka karasteristik bidang perilaku organisasional adalah:
  1.  Perilaku organisasional merupakan bidang yang bersifat multididipliner. 
  2. Perilaku organisasional dibangun dari berbagai disiplin ilmu seperti ilmu Psikologi, psikologi sosial, sosiologi dan antropologi.
  3. Perilaku organisasi mempeajari perilaku individu, kelompok, struktur, dan proses dalam organisasi secara sistemaris.
B. Kontribusi Berbagai Ilmu terhadap Perilaku Organisasional
Perilaku organisasional merupakan bidang ilmu terapan yang dibentuk dari berbagai disiplin ilmu/multidisciplinary. Bidang-bidang ilmu yang memberi konstribusi terhadap perilaku organisasional meliputi psikologi, psikologi sosial, sosiologi, dan antropologi, adapun kontribusi masing disiplin ilmu terhadap perilaku organisasional adalah (Robbins dan Judge, 2007):
  1. Psikologi. Ilmu psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mengukur, menjelaskan, dan mengubah perilaku manusia serta makhluk lainnya. Fokus psikologi terutama mempelajari dan memahami perilaku individu.Konstribusi psikologi terhadap perilaku organisasional antara lain kepribadian, persepsi, sikap, dan motivasi.
  2. Psikologi sosial. Psikologi sosial berusaha untuk memadukan konsep psikologi dan sosiologi, serta fokus pada pengaruh seseorang terhadap individu lainnya. 
  3. Konstribusi Psikologi sosial terhadap perilau organisasional antara lain perubahan perilaku, perubahan sikap, komunikasi, proses-proses kelompok dan pembuatan keputusan kelompok.
  4. Sosiologi. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan lingkungan sosial dan budaya mereka. Konstribusi sosiologi terhadap perilaku organisasional antara lain komunikasi, konflik, perilaku antar kelompok, Budaya organisasi dan perubahan organisasional.Antropologi. Antropologi adalah studi kemasyarakatan yang mempelajari manusia dan aktivitas-aktivitas mereka. Konstribusi antropologi terhadap perilaku organisasional antara lain nilai-nilaikompratif, sikap-sikap kompratif,  analisis lintas kultur, dan budaya organisaSI.
 C. Level Analisis Perilaku Organisasional
 Perilaku organisasi fokus pada tiga tingkatan analisis, yaitu tingkat individu, tingkat kelompok, dan tingkat organisasi. Tiga tingkatan analisis ini harus dipertimbangkan untuk memahami dinamika perilaku dalam organisasi yang begitu kompleks (Grenberg dan Baron, 2003).
 
  1. Tingkat individu. Setiap individu yang memasuki suatu organisasi akan membawa perbedaan-perbedaan. Perbedaan individu ini dipengaruhi oleh berbagai variabel antara lain kemampuan, pembelajara, kepribadian, persepsi, sikap motifasi dan stress. Perbedaan-perbedaan pada tingkat individu ini akan mempengaruhi perilaku mereka di dalam organisasi. Khususnya kinerja mereka.
  2. Tingakt kelompok. Individu-individu yang tergabung dalam suatu kelompok dipengaruhi oleh pola-pola perilaku yang mereka tunjukkan,  apa yang dianggap sebagai standar perilaku yang dapat diterima oleh kelompok tersebut, dan tingkat di mana anggota kelompok saling tertarik 
  3. Tingkat Organisasi. Pada level organisasi banyak faktor yang mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap kinerja organisasi tersebut antara lain adalah desain dan struktur organisasi, budaya organisasi serta kebijaksanaan dan praktik-praktik sumber daya manusia.
D. Asumsi-asumsi Dasar Perilaku Organisasi
Dalam mempelajari perlu diperhatikan asumsi-asumsi dasar, yaitu perilaku organisasional mengakui bahwa organisasi sebagai sistem terbuka yang dinamis dan selalu berubah, serta tidak ada pendekatan terbaik untuk semua situasi (Greenberg dan Baron, 2003)
  1. Perilaku organisasional mengakui bahwa organisasi adalah dinamis dan selalu berubah. Teori organisasi modern menganggap bahwa organisasi bukan merupakan sistem tertutup tetapi  sebagai sistem terbuka/open system. Organisasi sebgai sistem terbuka tidak terlepas dari pengaruhlingkungan yang terus-menerus selalu mengalami perubahan. Agar organisasi tetap hidup dan berkembang dalam jangka panjang, maka organisasi tersebut perlu terus-menerus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada lingkungan. Organisasi sebagai sistem terbuka, pada hakikatnya merupakan proses transformasi berbagai input yang menghasilkan berbagai output (Rekso hadiprodjo dan Handoko, 2000).
  2. Perilaku organisasi mengasumsikan bahwa tidak ada satu cara terbaik yang dapat digunakan untuk semua situasi. Pendekatan contingency memungkinkan menggunakan teknik manajemen dengan cara yang cocok dengan situasi, untuk menggantikan pendekatan "satu cara terbaik". Para peneliti pendekatan ini telah menentukan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan terbaik
E. Efektivitas Organisasi
Tujuan mempelajari perilaku organisasional antara lain membuat agar organisasi menjadi lebih efektif melalui perbaikan yang berkesinambungan. Cara menilai efektivitas organisasi dapat dilakukan dengan empat kinerja, yaitu pencapaian tujuan, akuisisi sumber daya, proses internal, dan kepuasan konstituensi (Kreitner dan kinicki, 2005).
  1. Pencapaian tujuan. Suatu organisasi dianggap efektif apabila dapat mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara hasil atau output dengan tujuan atau sasaran yanh sudah ditetapkan oleh organisasi.
  2. Akuisi sumber daya. Suatu organisasi dianggap efektif apabila organisasi tersebut dapat memperoleh input atau faktor-faktor produksi yang dibutuhkan, seperti bahan baku, modal, keahlian teknis,  dan manajerial.
  3. Proses Internal Suatu organisasi dianggap efektif apa bila memiliki sistem sehat. suatu organisasi memiliki sistem yang sehat jika informasi mengalir dengan lancar, serta adanya komitmen, kepercayaaan, loyalitas, dan kepuasan karyawan.
  4. Kepuasan konstituensi strategis?strategic constituency. Suatu organisasi dianggap efektif apabila adanya kepuasan pihak-pihak yang berkepentingan. Konstituensi strategis adalah sekelompok individu yang memiliki andill dalam organisasi, seperti penyedia sumber daya, penggunna produk, produsen output organisasi, kelompok-kelompok yang kerja samanya penting untuk kelanngsungan hidup organisasi, dan mereka yang hidupnya dipengaruhi oleh organisasi.
Demikianlah artikel mengenai Pengertian Perilaku Organisasi semoga bermanfaat, mohon maaf apabila banyak kekurangan.
 
 
 
 
 
 
 
 

Pengertian Status, Kelas dan Peran Sosial

1. Kedudukan Sosial (Status sosial). Kedudukan sosial adalah salah satu tempat atau posisi seseorang dalam kelompok sosial atau masyarakat sehubungan dengan keberadaan orang lain disekitarnya. Kedudukan sosial meliputi lingkungan pergaulan, prestasi, hak, dan kewajiban. Perlu diketahui seseorang dapat saja mempunyai beberapa kedudukan sosial didalam masyarakat, karena ikut serta dalam berbagai pola kehidupan sekaligus.
Dilihat dari proses terjadinya, kedudukan sosial (status) sesorang dibedakan menjadi tiga, 
  1. Ascirebed status adalah kedudukan sosial yang diperoleh secara otomatis melalui kelahiran atau keturunan. Achieved status diperoleh tanpa usaha tertentu bagi yang mendudukinya. 
  2. Achieved status adalah kedudukan yang di capai sesorang melalui usah-usaha yang disengaja. status sosial ini terbuka bagi setiap orang asal memenuhi syarat-syarat tertentu. Contohnya, guru, dokter, hakim, dan lainnya. 
  3. Assigned status adalah status sosial yang diberikan kepada seseorang yang berjasa telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Kedudukan tersebut diberikan karena seseorang telah lama menduduki suatu kepangkatan yang diakui masyarakat.

2.Peran Sosial. Peran adalah pelaksana hak dan kewajiban seseorang sesuai dengan status sosialnya. Jadi, apabia seseorang individu telah melaksanakan kewajiban dan meminta hak-haknya dengan status sosial yang disandingnya, maka dia telah menjalankan suatu peran yang tepat. Dalam masyarakat, terdapat banyak individu dengan peran yang beraneka ragam. Beragamnya peran sosial tersebut membawa akibat dinamis berupa konflik, ketegangan, kegagalan dan kesengajaan.
  1. Konflik peran. Konflik peran terjadi apapbila seseorang dengan kedudukan tertentu harus melaksanakan peran yang sesungguhnya  tidak dia harapkan. Hal ini terjadi karena seseorng mempunyai banyak status sosial. Contoh: Seorang polisi yang baik harus menangkap pelaku kejahatan yang sebenarnya adalah keponakannya sendiri. Padahal sebagai seorang paman, dia wajib melindungi keponakannya itu. 
  2. Etegangan. Ketegangan terjadi apabila seseorang mengalami kesulitan untuk melakukan peran sosial yang dimilikinya karena adanya ketidak sesuaian antara kewajiban-kewajiban yang harus dia jalankan dengan tujuan peran sosial itu sendiri. Contoh: Seorang pemimpin kantor yang harus menerapkan disiplin waktu pada karyawannya yang sebagian besa adalah kerabat dekatnya.
  3. Kegagalan peran. Kegagalan peran terjadi apabila  seseorang tidak sanggup menjalankan beberapa peran sekaligus karean terdapat tuntutan-tuntutan yang saling bertentangan.
  4. Kesenjangan peran. Kesenjangan peran terjadi apabila seseorang harus menjalankan peran yang tidak menjadi prioritas hiupnya sehingga merasa tertekan atau merasa tidak cocok menjalankan peran tersebut
3. Kelas Sosial. Kelas sosial merujuk kepada pembedaan tingkatan antara individu-individu dalam sebuah masyarakat. Pengertian kelas sosial bisa berbesa-beda dalam tiap zaman dan masyarakat. Namun kelas sosial secara umum sering ditentukan oleh tingkat pendapatan, pendidikan, dan kesejahtraan.
Contohnya:
Kelas menengah, golongan pengusaha, kaum bangsawan.
  1.   Menurut Soerjono Soekanto, pengertian kelas sosial hampir sama dengan lapisan sosial tanpa membedakan apakah berdasarkan faktor uang, tanah, atau kekuasaan. Ada juga yang menggunnakan istilah kelas sosial hanya untuk lapisan sosial berdasarkan ekonomi, sedangkan lapisan sosial berdasarkan kehormatan dinamakan kelompok status.
  2. Kornblum Mendefinisikan kelas sosial hampir sama dengan kasta, hanya saja penentuannya berdasarkan ekonomi seperti pekerjaan, penghasilan, dan kemakmuran. Biasanya, kelas sosial bersifat terbuka dan tidak homogen. Artinya, terjadi mobilitas baik ke atas maupun ke bawah di antara kelas-kelas itu.
  3. Max Weber membedakan antara dasar ekonomi dengan dasar kedudukan sosial, tetapi tetap menggunakan istilah kelas  sosial bagi semua lapisan. Kelas sosial yang bersifat ekonomi ini dibagi lagi ke dalam subkelas yang dipillih berdasarkan kecakapan dibidang ekonomi.


Demikian penjelasan mengenai, Pengertian Status, Peran, dan Kelas Sosial, semoga bermanfaat bagi kita semua, atas perhatian teman-teman kami ucapkan terima kasih.


Fungsi Sosialisasi Dalam Pembentukan Peran dan Status Sosial

Menurut kamus besar bahasa indonesia, sosialisasi berarti proses belajar seseorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungan. Sosialisasi merupakan proses belajar seseorang untuk mempelajari pola hidup sesuai nilai, norma, dan kebiasaan yang di jalankannya dalam masyarakat atau kelompok dimana dia berada. Unsur-unsur yang dipelajari dalam sosialisasi adalah peranan pola hidup dalam masyarakat sesuai nilai, norma dan kebiadaan masyarakat. Proses belajar seseorang dalam masyarakat tidak berlangsung sekali saja, tetapi secara terus menerus. Secara garis besar, sosialisasi terbagi dalam dua jenis, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekundder. Sosialisasi primer adalah sosialisasi yang pertama di jalani individu sejak kecil. Sosialisasi ini menjadi pintu bagi seseorang dalam memasuki keanggotaan sesuai dengan peran dan status sosial yang dijalankan. Sosialisasi sekunder adalah proses sosialisasi setelah sosialisasi primer. Proses sosialisasi ini memperkenalkan kepada individu sektor-sektor baru dalam masyarakat.
Tujuan sosialisasi, antara lain sebagai berikut:
  1. Memberikan keterampilan kepada seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat.
  2. Mengembangkan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi secara efektif.
  3. Mengembalikan fungsi-fungsi organik seseorang melalui intropeksi yang tepat.menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan kepada seseorang yang mempunyai tugas pokok dalam masyarakat.

Keberhasilan sosialisasi sangat ditentukan oleh kebudayaan  suatu masyarakat. Oleh karena itu  sosialisai pada masyarakat, satu berbeda dengan masyarakat lain, misalnya dandanan anak yang ada dilingkungan kota berbeda dengan anak yang ada dilingkungan  pedesaan. Dengan proses sosialisasi, individu berkembang menjadi susatu pribadi atau makhluk sosial. Pribadi merupakan kesatuan sifat individu yang berkembang melalui proses sosialisasi. Kepribadian merupakan ciri watak seseorang individu yang tetap dan memiliki identitas sebagai individu yang mandiri. setiap orang mempunyai kepribadian yang berlainan. Kepribadian adalah organisasi yang terdiri atas faktor biologis, sosiologis dan psikologis. Kepribadian menjadi dasar seseorang dalam bertingkah laku dimasyarakat dan lingkungannya, seperti lingkungan sekolah, keluarga, kampung dan organisasi. Kepribadian meliputi, kebiasaan, sikap, dan sifat khas seseorang yang akan berkembang jika berhubungan dengan orang lain.

Adapun fungsi sosialisasi dalam pembentukan peran dan status sosial adalah sebagai berikut:
  1. Mampu mempelajari dan menghayati norma-norma yang ada dalam kelompok tempat iya tinggal.
  2. Dapat mengenal masyarakat yang lebih luasMengetahui peran-peran yang dimiliki masing-masing anggota masyarakat.
  3. Dapat mengembangkan kemampuan sesuai peran dan status sosialnya.

Demikian artikel tentang. Fungsi Sosialisasi Dalam Pembentukan Peran dan Status Sosial, Semoga bermanfaat bagi kita semua, dan atas perhatian teman-teman saya ucapkan terimakasih.
Referensi:
A.M Sardiman. Mulyani Endan dan Suryo Dyah Respati. 2006. Khasanah Ilmu Pengetahuan Sosial. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sosialisasi

Dalam proses sosialisasi, keberhasilan maupun kegagalan dari sosialisasi itu sendiri sangat tergantung dengan faktor yang mempengaruhinya. Ada tiga faktor yang mempengaruhi sosialisasi yaitu, Kematangan fisik Seseorang, Lingkungan atau sarana sosialisasi, dan Keinginan yang kuat. untuk lebih jelasnya silahkan simak penjelasan dibawah ini mengenai ketiga faktor tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu sosialisasi adalah sebagai berikut. 
 
A. Kematangan Fisik Seseorang. Sebagai suatu proses, sosialisasi sangat memerlukan kematangan fisik individu. Kematangan fisik ini berkaitan erat dengan usia seseorang. Kematangan fisik terutama dibutuhkan untuk mensosialisasikan cara-cara berbahasa dan melakukan beberapa keterampilan dasar. Seseorang individu mengalami periode masa kecil yang cukup lam, periode ketika ia belum mandiri dan tingkat ketergantungannya pada orang lain sangat tinggi. Oleh karena itu, prosedur-prosedur sosialisasi harus disusun sedemikian rupa agar dapat diterima dengan baik. 
 
B. Lingkungan atau sara sosialisasi 
Lingakugan atau sarana sosialisasi antara lain sebagai berikut.
  1. Interaksi dengan sesama, hal ini diperlukan untuk pertumbuhan kecerdasan dan emosional, serta untuk mempelajari pola-pola kebudayaan dan cara-cara berpartisipasi dalam masyarakat. Melalui interaksi dengan  orang lain, seseorang mempelajari tentang hak, kewajiban dan tanggung jawab, dalam kehidupan bermasyarakat, serta tindakan-tindakan yang sesuai atau tidak sesuai dengan norma-norma dasar masyarakatBahasa
  2. Bahasa merupakan produk kebudayaan manusia yang sangat penting karena berisi simbol-simbol dan dipergunakan untuk memahami simbol-simbol kebudayaan lain. Selain itu bahasa juga dapat dihunakan untuk memahami realitas sosial, mengkomunikasikan gagasan-gagasan, dan menyatakan pandangan-pandangan maupun nilai-nilai seseorang kepada orang lain dalm rangka hidup bermasyarakat.Kasih sayang, kasih sayang menciptakan lingkungan sosial yang kodusif bagi proses sosialisasi, ketika individu dan kelompok salin memperhatikan, saling memberi, dan saling melindunngai.
  3. Kasih sayang diperlukan bagi kesehatan fisik dan mental seseorang. Selainitu, kasih sayang juga diperlikan sebagai saran berkomunikasi dan bekerja sama dengan cara saling menguntungkan 
.
C. Keinginan yang Kuat
          Menurut D.C. McCleland (1963), faktor yang penting dalam proses sosialisasi adalah  keinginan untuk melakukan sesuatu dengan baik, kepuasan untuk mencapai prestasi pribadi, atau kebutuhan akan prestasi. Bagi seorang siswa, memperoleh nilai bagus, seorang siswa cenderung akan berusaha untuk belajar lebih rajin dan kerja keras lagi agar selalu mendapatkan nilai yang bagus. Begitupun seorang karyawan. Ia akan berusaha bekerja sebaik mungkin apabila menganggap peningkatan prestasi kerja sangat penting. Sebaliknya, ia akan malas dan tidak produktif jika mengangap prestasi kurang penting dibanding dengan gaji yang diterima.

Demikian pembahasan tentang Fakktor-faktor yang mempengaruhi sosialisasi, semoga bermanfaat bagi kita semua, atas perhatian teman-teman kami ucapkan banyak terima kasih.

 

Pengertian Interaksi Sosial dan Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

A. Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain. Ada beberapa pengertian interaksi sosial yang ada dilingkungan masyarakat, di antanya.
  1.  H. Booner dalam bukunya, Social Psychology, memberikan rumusan interaksi sosial, bahwa: "Interaksi sosial adalah hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya."
  2. Gillin dan Gillin (1954) menyatakan bahwa interaksi sosial adalah hubungan-hubungan antara orang-orang secara individual, antarkelompok orang, dan orang perorangan dengan kelompok.
  3. Interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu, antar kelompok dengan kelompok, antara individu dengan kelompok


B. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
  1. Bentuk interaksi Asosiatif (Association processes) Interaksi sosial dengan proses asosiatif bersifat positif. Maksudnya, mendukung seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Kerja Sama (cooperation) Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama berawal dari kesamaan orientasi. misalnya warga rela bekerja bakti membersihkan lingkungan karena sama-sama menyadari manfaat lingkungan yang bersih. Kerja sama dibedakan menjadi beberapa bentuk berikut. Kerja sama spontan, yaitu kerja sama yang terjadi secara serta-merta. Kerja sama langsung, yaitu kerja sama sebagai hasil dari perintah atasan kepada bawahan atua penguasa terhadap rakyatnya.Kerja sama kontrak, yaitu kerja sama atas dasar syarat-syarat atau ketetapan tertentu, yang disepakati bersama.Kerja sama tradisional, yaitu kerja sama sebagai atau unsur-unsur tertentu dari sistem sosial. Sejumlah ahli berpendapat bahwa masyarakat yang terlalu mementingkan kerja sama justru cenderung kurang mempunyai inisiatif ataupun daya kreasi. Warga dalam masyarakat seperti itu terlalu mengandalkan bantuan dari rekan-rekannya. Orang cenderung mempersilakan orang lain tampil lebih dahulu, atau menunggu sejumlah orang untuk memulai. Meskipun demikian harus diakui bahwa kerja sama meruppakan salah satu bentuk interaksi sosial yang universial pada masyarakat manapun. Akomodasi (Accomodation) Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian diri individu atau kelompok manusia yang semula saling bertentangan sebagai upaya untuk mengatasi ketegangan. Akomodasi berarti adanya keseimbangan interaksi sosial dalam kaitannya dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Akomodasi merupakan salah satu jalan untuk menyelesaikan pertentangan, entah dengan cara menghargai kepribadian yang berkonflik atau dengan cara paksaan atau tekanan. Bentuk-bentuk akomodasi antara lain sebagai berikut: Koersi adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanankan karena adanya paksaan.Kompromi, adalah suatu bentuk akomodasi simana pihak yang terlibat masing-masing mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. Arbitrasi, adalah cara untuk menyampaikan kompromi apabila ypihak yang berhadapan tidak sanggup untuk mencapainya sendiri. Mediasi, adalah hampir menyerupai arbitasi diundang pihak ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada. Konsiliasi adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak yang berselisih, bagi tercapainya suatu persetujuan bersama. Toleransi, adalah bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya. Stalemate, merupakansuatu akomodasi dimana pihak-pihak yang berkepentingan mempunyai kekuatan yang seimbang, berhenti pada titik tertentu dalam melakukan pertentangan. Ajudikasi, yaitu penyelesaian perselisihan perkara atau sengketa di pengadilan.
  2. Bentuk Interaksi Disosiatif. Proses disosiatif disebut pula proses oposisi. Oposisi dapat pula diartikan cara yang bertentangan dengan seseorang ataupun kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Proses disosiatif dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu: Persaingan (Competition) Persaingan adalah bentuk interaksi yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang bersaing untuk mendapatkan keuntungan tertentu bagi dirinya dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada tanpa menggunakan kekerasan. Kontravensi (Contravention) Kontravensi adalah bentuk interaksi yang berbeda antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditandai oleh adanya ketidak pastian terhadap diri seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan, dan kebencian terhadap kepribadian orang, akan tetapi gejala-gejala tersebut tidak sampai menjadi pertetntangan atau pertiakaian. Pertentangan (conflict) Pertentangan adalah suatu bentuk inteaksi individu atau kelompok sosial yang berusaha untuk mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan. Pertentangan memiliki bentuk-bentuk yang khusus, antara lain: Pertentangan pribadi, pertentangan antar individu. Pertentangan rasional, perbedaan yang muncul karena perbedaan ras. Pertentangan kelas sosial, pertentangan yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan antara kelas sosial. Pertentangan politik, biasanya terjadi diantara partai-partai politik untuk memperoleh kekuasaan negara. Demikian artikel tentang Pengertian Interaksi Sosial dan Bentuk-bentuk Interaksi Sosial, semoga bermanfaat bagi kita semua, dan atas perhatian teman-teman kami ucapkan banyak terimakasih.

    Referensi: Setiadi Elly M. Dkk. 2013. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Kencana
    Muin Idianto. 2006. SOSIOLOGI SMA/MA untuk kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga

Teori Globalisasi

Globalisasi adalah sebuah istilah yang dikenal pertama kali oleh wartawan Theodore Levitt pada tahun 1980-an. Istilah tersebut sampai sekarang masih terus diperdebatkan di kalangan akademis dan dunia pemerintahan, baik nasional maupun internasional. 

Teori Globalisasi
Kendati ada berbagai versi teori globalisasi, terdapat kecenderungan di hampir semua teori tersebut untuk menjaga jarak dramatis dari fokus di Barat dan menelaah tidak hanya proses-proses tradisional yang mengalir ke berbagai penjuru, namun juga dapat batas-batas tertentu, yang otonom dan independen dari bangsa atau wilayah perang (Appadurai, 1996). Menurut George Ritzer, globalisasi dapat dianalisis secara budaya, ekonomis, politis, dan/atau institusional. Pada masing-masing kasus, perbedaan utamanya dalah apakah orang melihat semakin besarnya homogenitas atau heterogenitas. Kecenderungan kearah homogenitas sering kali diasosiasikan dengan imerialisme internasional dari kebudayaan tertentu. Ada berbagai imperialisme budaya termasuk yang menekankan peran kebudayaan Amerika (Kuisel, 1993; Ritzer, 199, 2000), Barat (Giddens,1990), atau negara-negara inti (Hannerz,1990). Namin Robertson (1992) menentan gagasan ini, meskipun ia tidak menggunakan istilahnya imperialisme budaya, melalui konsepnya yang terkenal dengan istilah globalisasi. Konsep globalisasi ini melihat yang global berinterkasi dengan yang lokal untuk menghasilkan sesuatu yang khas sifatnya, yaitu glokal. Pandangan yang menegaskan heterogenitas budaya seperti itu tidak hanya dari Robertson, beberapa orang lainmenegaskan hal yang sama termasuk Garcia Cancilini (1995) dan Pieterse (1995). Yang dalam kategori umum ini adalah karya sarjana seperti Friedman (1994), yang menggambarkan dunia yang dicirikan oleh pasticbe budaya. 

Pemikiran ilmu sosial yang memusatkan perhatian pada faktor-faktor ekonomi, seperti DR Mansour Fakih di  atas, cenderung menitikberatkan faktor ekonomi dan efek homogenesis faktor-faktor tersebut bagi dunia. Pada umumnya mereka melihat globalisasi sebagai menyebarnya ekonomi pasar ke berbagai kawasan dunia. Contoh lain pemikir sosial jenis ini adalah George Stiglitz, ekonom pemenang hadia Nobel dan mantan ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden Amerika Serikat pada masa Bill Clinton, mengemukakan kritik IMF karena peran mereka dalam memperburuk, ketimbang memperbaiki, krisis ekonomi global. Stigliz memberi argument yang meyakinkan akan pentingnya reformasi lembaga-lembaga dunia PBB,IMF, dan Bank Dunia, juga perjanjian-perjanjian perdagangan internasional dan peraturan tentang kekayaan intelektual supaya lembaga-lembaga itu benar-benar mampu menjawab permasalahan masa kini. Stiglitz mengecam IMF dan lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya yang tidak sungguh-sungguh berupaya untuk membanti negara-negara miskin agar bisa keluar dari masalahnya dan sebaliknya banya menawarkan solusi "satu untuk semua" yang terbukti gagal menyelesaikan masalah-masalah spesifik dari negara-negara miskin tersebut. 

KonsesnsusWshington, 10 formula yang diracik ekonom John Williamson pada tahun 1987-1988 diadopsi oleh institusi-institusi keuangan terkemuka seperti IMF, Bank Dunia, dan Departemen Keuangan Amerika Serikat sebagai resep untuk memulihkan kesehatan ekonomi sebuah negara tatkala mengalami kelumpuhan. Hal itu ditolak oleh Stigitz. Ia berpendapat bahwa negara-negara yang patuh mengikuti resep tersebut justru sulit bangkit dari keterpurukan ekonomi. Stiglitz menekankan pentingnya kebiajakn yang lebih terpila-pilah di IMF dan organisasi ekonomi global lainnya. Bentuk heterogenitas lain pada ranah ekonomi antara lain komodifikasi budaya lokal dan adanya spesialisasi yang fleksibel sehingga memungkinkan dihasilkannya beragam produk yang bisa memenuhi kebutuhan bermacam spesifikasi lokal. Lebih umum lagi, mereka yang menekankan heterogenisasi berargumen bahwa interaksi pasar global dengan pasar lokal menyebabkan terciptanya pasar glokal unik yang mengintegrasikan permintaan pasar global dengan realitas pasar lokal. Orientasi politis atau institusional juga menekankan homogenitas atau heterogenitas. Contoh dari mereka yang menggunakan prspektif homogenisasi pada wilayah ini antara lain Meyer et al. (1997), yang berfokus pada penyebaran model negara bangsa keseluruh dunia dan munculnya berbentuk-bentuk pemerintahan sejenis di seluruh dunia. Lebih besar lagi, Keohane dan Nye (1989) memusatkan perhatiannya pada pengaruh global berbagai institusi. Habsbawn and Appadurai melihat tumbuhnya institusi dan organisasi tradisional telah menggerogoti kekuasaan negara bangsa dan struktur sosial lain yang lebih bersifat lokal dalam menciptakan perbedaan dalam kehidupan masyarakat. Hardt dan Negri dalam bukunya yang berpengaruh besar, Empire, mendiskusikan kemunculan bentuk kedaulatan imperial global baru yang terlepas dari bangsa manapun namun menjalankan kontrol yang semakin kuat terhadap semua bangsa dan orang-orang yang ada di dalamnya. Mereka menitikberatkan pada perkembangan sistem konstitusi supra nasional baru. Salah satu pandangan paling ektrem dalam homogenisasi ranah politik adalah pemikiran Barber(1995) tentang "McWorld," atau tumbuhnya orientasi politik tunggal yang semakin berkuasa di seluruh dunia. Pandangan Barber tentang McWorld tidak terbatas pada politik; ia melihat banyak ranah lain mengikuti model McWorld. Menurutnya, jihad sebagai perspektif alternatif yang melibatkan kekuatan politik lokal,etnis, dan reaksioner (termasuk "negara-negara kuno") yang berdampak pada tebangunnya nasionalisme dan membawa ke arah heterogenitas politik di seluruh dunia. Wujud heterogenitas tersebut antara lain berupa bangunan politik glokal unik yang lahir dari interaksi McWorld dengan Jihad. Bangunan politik tersebut mengintegrasikan elemen-elemen McWorld (misalnya, penggunaan Internet untuk menggalang dukungan) dengan yang Jihad (misalnya, penggunaan gagasan-gagasan dan retorika tradisional). Sekali lagi, teori globalisasi sangat dipengaruhi oleh pemikiran mengenai globalisasi sangat dipengaruhi oleh pemikiran mengenai homogenisasi dan heterogenisasi. 
gambar globalisasi