Home » » MASYARAKAT DESA DAN KOTA

MASYARAKAT DESA DAN KOTA

Kita sering mendengar jenis-jenis masyarakata, seperti masyarakat desa dan kota. Desa dan kote memiliki perbedaan baik secara fisik maupun secara sosial.
Sebuah desa sering kali ditandai dengan kehidupan tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian, penduduknya ramah-tamah, saling mengenal satu sama lain, mata pencaharian penduduknya kebanyakan sebagai petani, atau nelayan.
Orang di desa mempunyai hubungan yang lebih erat dan mendalam antar-sesama warganya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok, atas dasar kekeluargaan. Penduduk masyarakat desa pada umumnya hidup dari pertanian dan nelayan. Pekerjaan bertani biasanya dilakukan secara bersam-sama antara masyarakat desa lainnya. Hal itu mereka lakukan, karena biasanya satu keluarga saja tidak cukup melakukan pekerjaan tersebut. Sebagai akibat dari kerja sama ini, timbullah kebiasaan dalam masyarakat yang namanya gotong royong. Pada masyarakat desa jarang ditemukan pekerjaan berdasarkan keahlian, alkan tetapi biasanya pekerjaan didasarkan pada usia (karena kekuatan fisik) dan kelamin.
Usia dan ketokohan sangat berperan penting dalam masyarakat desa. Golongan orang tua pada masyarakat pedesaan, pada umumnya memegang peran penting. Orang-orang akan selalu meminta nasihat-nasihat kepada mereka, apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Kesukarannya adalah orang-orang tua itu mempunyai pandangan-pandangan yang didasarkan pada tradisi yang kuat, sehingga perubahan akan sulit terjadi.
Desa mengalami perubahan sehingga unsur-unsur kota masuk di dalamnya. Begitu pula kota, meskipun disebut sebuah kota, ciri-ciri atau kebiasaan desa masih ada yang melekat di dalamnya.
Sebuah kota sering kali ditandai dengan kehidupan yang ramai, wilayahnya yang luas, banyak penduduknya, hubungan yang tidak erat satu sama lain, dan mata pencaharian penduduknya bermacam-macam.
Menurut Soerjono Soekamto (1986), masyarakat kota dan desa memiliki perhatian yang berbeda, khususnya perhatian terhadap keperluan hidup. Di desa yang diutamakan adalah perhatian  khusus terhadap kebutuhan pokok, fungsi-fungsi yang lain diabaikan. lain dengan pandangan orang kota, mereka melihat selain keperluan pokok, Contoh pada orang kota, makanan harus kelihatan mewah dan tempat menghidangkannya harus mewah dan terhormat. Di sini, terlihat ada beberapa penilaian, orang desamenilai makanan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan biologis, sedangkan bagi orang kota  sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sosail.
Pembagian kerja (division of labor) pada masyarakat kota sangat terspesialisasi. Begitu pula jenis profesi pekerjaan sudah sangat banyak macamnya (heterogen). Dari sudut keahlian (spesialisasi), seseorang mendalami pekerjaan pada satu jenis keahlian yang semakin spesifik, contohnya: ada dokter umum, yang lebih terspesialisasi ada dokter khusus akhli THT (telinga hidung tenggorokan), dokter ahli penyakit dalam (internis), dokter ahli kandungan (genekolog), dan laim-lain. Di samping itu jenis pekerjaan banyak sekali macamnya, contohnya, ada tukang listrik, ada ahli bangunan, guru, polisi, tentara, angkutan dan lain-lain,
Antara satu pekerjaan dan pekerjaan lain sangat erat kaitannya, ada saling ketergantungan diantara mereka.Ibu-ibu rumah tangga sangat bergantung pada tukang sayur, pada tukang listrik  pada tukang gas, sehingga kegiatan rumah tangga akan terganggu ketika salah satu di antara mereka tidak ada. Seorang pelajar, pegawai atau pekerja lain, akan terganggu aktivitasnya bila para sopir angkutan umum melakukan mogok kerja. Begitu pula para sopir, atau para pengguna kendaraan lainnya akan terganggu aktivitasnya bila para penjual bensin dan bahan bakar lain melakukan mogok kerja.
Ada saling ketergantungan yang tinggi antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lain karena perbedaan pekerjaan. Satu jenis pekerjaan dengan pekerjaan lain saling ketergantungan. Saling ketergantungan antara satu anggota masyarakat dengan masyarakat lain yang disebabkan karena perbedaan pekerjaan (heterogenitas pekerjaan) menurut Emile Durkheim (1973:63) disebut dengan solidaritas arganis (organic solidarity).
Di sisi lain masyarakat desa memiliki jenis pekerjaan yang sama, seperti bertani, berladang, atau sebagai nelayan. Kehidupan orang desa yang memiliki jenis pekerjaan yang sama (homogen) sangat menggantungkan  pekerjaannya kepada keluarga lainnya. Mereka tidak bisa mengerjakan semuanya oleh keluarganya sendiri. Untuk mengolah tanah, memanem padi, atau pekerjaan bertani lainnya, mereka harus sepakat dengan yang lain dengan menuggu giliran. Begitu pila jika ada pekerjaan lain, seperti membuat atau memperbaiki rumah. saling ketergantungan pada masyarakat yang disebabkan karena adanya  persamaan dalam bidang pekerjaan oleh Emile Durkheim disebut dengan solidaritas mekanis (mechanic solidaritiy).
Ferdinand Tonnies mengemukakan pembagian masyarakat dengan sebutan masyarakat gemainschaft dan geselschaft. Masyarakat gemainschaft atau disebut juga paguyuban adalah kelompok masyarakat di mana anggotanya sangat terikat secara emosional dengan yang lain, adapun masyarakat geselschaft. atau patembeyan ikatan-ikatan di antara anggotanya kurang kuat dan bersifat rasional. paguyuban sebagai refleksi masyarakat desa, sedangkan patembeyan refleksi masyarakat kota.